Sabtu, 19 April 2014

MEMERANGI KEMISKINAN DI PEDESAAN MELALUI PENDIDIKAN NON-FORMAL





RESUME BUKU
“MEMERANGI KEMISKINAN DI PEDESAAN
MELALUI PENDIDIKAN NON-FORMAL”


Sebagai Tugas dalam Mata Kuliah Kemiskinan Desa Kota
Dosen Pengajar: Prof. Darsono Wisadirana








DISUSUN OLEH:
1.      DICKY SUHARTONO, SE                     NIM. 126120400111006
2.      ELIAS TANDE, SE                                  NIM. 126120400111010
3.      AISYAH AMINY, S.Si                             NIM. 126120400111025
4.      NUR ROIS AHMAD, S.Pi                       NIM. 126120400111026






PROGRAM MAGISTER SOSIOLOGI KAJIAN KEMISKINAN

PROGRAM PASCASARJANA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2013

BAB 1. LATAR BELAKANG STUDI

Akibat adanya usaha modernisasi, maka daerah perkotaan semakin berkembang berbeda jauh dengan pedesaan. Oleh karena itu, pada akhir dasawarsa 60-an para ahli sepakat untuk menekankan pembangunan di daerah pedesaan. Berbagai ketimpangan terjadi di berbagai sektor termasuk pendidikan. Ada 3 alasan:
1.      Perkotaan menerima jatah sumber daya lebih banyak
2.      Ketidaksesuaian antara apa yg dipelajari di sekolah dengan apa yang perlu dipelajari
3.      Kebijaksanaan di bidang pendidikan masih memandang bahwa pendidikan adalah pendidikan formal
Pendidikan tidak lagi boleh dipandang sebagai proses yang terikat pada waktu dan ruang tertentu yang terbatas pada sekolah. Pendidikan adalah proses belajar entah dimana dan kapan, harus dimulai dg suatu pandangan fungsional yaitu diawali dari kebutuhan para siswa/ masyarakat yang kemudian dapat ditentukan sarana kebutuhan manakah yang paling tepat untuk memenuhi kebutuhan mereka itu.


BAB 2.  TINJAUAN MENYELURUH MENGENAI PENDIDIKAN DI PEDESAAN

Pada bab ini dibahas mengenai gambaran kasar tentang pendidikan di pedesaan dalam keseluruhannya termasuk keadaan masa kini serta apa yang dibutuhkan dalam jangka pendek. Ada 3 faktor kritis:
·         Penduduk
Penduduk daerah pedesaan meliputi mayoritas penduduk terbesar dari seluruh negara berkembang, dan merupakan konsumen potensial bagi pendidikan nonformal
·         Tanah
Kecenderungan kependudukan yang berat membawa implikasi yang khas yaitu berkurangnya produksi pertanian dan penggunaan tanah. Produksi pertanian di negara berkembang perlu ditingkatkan
·         Kesempatan Kerja
Tekanan penduduk yang terhadap persediaan lahan garapan yang terbatas persediaannya meningkatkan kebutuhan akan kesempatan kerja di luar ladang untuk menyerap kelebihan angkatan kerja pedesaan yg melimpah ruah
           
Ada beberapa sifat dasar pembangunan pedesaan serta peranan pendidikan:
         Pembangunan perkotaan selalu menempati urutan lebih dahulu daripada pembangunan pedesaan
         Pembangunan pedesaan merupakan perombakan yang mendasar dari segala struktur, lembaga, hubungan, dan proses sosial ekonomi di pedesaan
         Pembangunan pedesaan merupakan resultan dari berbagai kekuatan yg berinteraksi. Salah satu kekuatan itu adalah pendidikan dalam aneka bentuk dan menyangkut sejumlah besar penduduk.
         Keanekaragaman keadaan dan potensi daerah pedesaan menjadikan tidak adanya suatu rumusan yang sama untuk mencapai pembangunan pedesaan dalam segala situasi dan tidak pula terdapat rumusan mengenai corak pendidikan yang cocok untuk menggairahkan pembangunan pedesaan itu.
         Dalam bidang ini khususnya diperlukan program pendidikan yang berorientasi karya, harus pandai menanggapi kebutuhan dan ketrampilan yang baru.

Pendidikan yang diperlukan dalam rangka pembangunan di pedesaan:
         Pendidikan umum dan dasar: melek huruf, melek angka, dsb yang ditangani oleh sekolah dasar & sekolah lanjutan umum
         Pendidikan kesejahteraan keluarga: ilmu kesehatan, ilmu gizi, pengasuhan anak
         Pendidikan kemasyarakatan: bertujuan mengokohkan dan menyempurnakan lembaga-lembaga & proses-proses daerah dan nasional
         Pendidikan kejuruan: untuk membina kepandaian dan ketrampilan tertentu yang berguna untuk mencari nafkah

Kelemahan pendidikan di pedesaan:
         Daerah pedesaan kurang sekali memiliki sumber daya pendidikan (contoh: bacaan apa yg tersedia di pedesaan yg terpencil?)
         Langkanya program pendidikan yang berorganisasi, baik yang formal maupun informal
         Di pedesaan SD yang dimaksudkan dibangun sebagai sarana untuk pemerataan kesempatan malah menjadi sumber diskriminasi karena mayoritas hanya sebagian anak di pedesaan yang bisa masuk ke sekolah

PENDIDIKAN NONFORMAL
Di pedesaan, angka putus sekolah tinggi sehingga diperlukan program “setaraf sekolah” yang dimaksudkan untuk menyediakan pendidikan bagi kaum remaja yang putus sekolah. Pendidikan nonformal merupakan salah satu cara untuk membuka kesempatan untuk masuk ke dalam sistem pendidikan formal lanjutan. Pendidikan kejuruan terutama pertanian memegang peranan yg menonjol.

Terdapat beberapa ketimpangan dalam pembagian sumber daya pendidikan (hasil penelitian ICED):
·         Anggaran untuk pendidikan kalah saing dari program lain dalam belanja negara
·         Anggaran pendidikan formal > pendidikan nonformal baik di kota dan di desa
·         Daerah perkotaan memiliki porsi lebih besar baik dalam pendidikan formal dan nonformal
·         Pendidikan nonformal di pedesaan sebagian besar ditujukan kepada penduduk golongan dewasa (petani)
·         Pendidikan nonformal bagi kaum remaja hanya untuk anak yang bersekolah, jarang terdapat program yang untuk anak luar sekolah padahal golongan ini yang mayoritas
·         Sumber daya potensial untuk pendidikan nonformal di daerah pedesaan seringkali tidak dimanfaatkan
·         Bantuan luar negeri, khususnya badan PBB yang menangani pendidikan juga tidak menaruh minat pada program pendidikan nonformal

Empat corak pendekatan menuju penyuluhan dan pelatihan di pedesaan:
1.      Pendekatan Penyuluhan
Tidak hanya cara kerja penyuluhan tetapi mencakup keyakinan bahwa dapat membantu masyarakat yang statis berubah menjadi dinamis sehingga meningkatkan kesejahteraan keluarga.
2.      Pendekatan Pelatihan/ Pendidikan
Lebih menitikberatkan pengajaran yang sistematis serta mendalam untuk meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan dasar tertentu. Menggabungkan pengajaran teori dan praktek.
3.      Pendekatan Swadaya Kooperatif
Menitikberatkan pada pembinaan lembaga-lembaga lokal untuk swadaya yang kooperatif. Faham yang dianut bahwa penggerak utama pembangunan pedesaan harus timbul dari dalam.
4.      Pendekatan Pembangunan Terpadu
Suatu pandangan luas mengenai proses pembangunan dan cara mengkoordinasi dlm rangka satu “sistem pengelolaan tunggal”.


BAB 3. PROGRAM PENYULUHAN PERTANIAN

Pada bab ini dibahas mengenai pendekatan pertama dalam penyuluhan dan pelatihan di pedesaan yaitu pendekatan penyuluhan. Di hamper tiap negara berkembang terdapat suatu organisasi jawatan penyuluhan pertanian. Ada juga negara yang menyelenggarakan lebih dari satu organisasi dalam bidang ini. Jasa penyuluhan yang disediakan berlainan pula. Sebagian besar isi bab ini menyorotkan dua corak yang sangat berbeda dalam bidang penyuluhan pertanian: satu corak yang disebut model konvensional, yang telah dikembangkan menjadi Dinas Pembangunan Pedesaan     (ORD = Office of Rural Development) di Korea Selatan, dan suatu corak yang lebih berspesialisasi, yang dilukiskan oleh Himpunan Bantuan dan Kerja sama Teknik (SATEC = Societe d’ Aide Technique et de Cooperation) di Senegal.

Berikut tabel mengenai perbedaan antar model:



Uraian
Metode Konvensional
Metode Konvensional versi Mutakhir
Negara yg melaksanakan
Amerika latin,
sebagian besar Asia
Korea Selata (ORD)
Periode
Daswarsa 40-an dan 50-an
70-an
Tujuan
Menggairahkan dan membantu petani untuk meningkatkan produksi dengan cara kerja teknik yang sempurna
Mencapai kenaikan produk dengan cara kerja teknik yang disempurnakan, membantu keluarga pedesaan untuk meningkatkan pendapatannya
Gol. Sasaran
Kaum tani, para istri, dan anak muda (masuk dewasa)
idem
Organisasi & struktur
Bernaung dibawah kementrian/ universitas/ institut pertanian
ORD (merupakan alat pelaksana dari kementrian pertanian dan kehutanan) dengan otonomi luas
Tenaga kerja
Karyawan lulusan jurusan pertanian/ teknologi produksi.
60.000 petugas penyuluhan, 2/3 di lapangan 1/3 memegang jabatan di kab/ kantor cabang lokal
Bahan pendidikan
Teknologi produksi, ada sambilan soal ekonomi dan logistik, perencanaan, pemanfaatan kredit & pemasaran produksi

Metode-metode
Ada 5 tahapan penyuluhan: memupuk kesadaran, membangkitkan minat, informasi & peragaan, percobaan di ladang sendiri & sambutan oleh petani
Ada perpustakaan keliling karena tingkat melek huruf tinggi
Biaya dan Dana
Dibiayai dari pemerintah pusat sendiri
idem

Penyuluhan sebagai Katalis dalam Kampanye Produksi

Di Afrika, penyuluhan tidak melayani seluruh daerah dan aneka ragam budidaya dan petani. Fokus utama adalah memperluas produksi budidaya ekspor: coklat, kacang tanah, kapas dan teh. Terdapat “sistem manajemen” yang tugasnya sudah dibagi-bagi: penyuluh hanya menyediakan “paket cara kerja”, untuk pemasaran harus disetor kepada lembaga yang sudah ditentukan, sedangkan benih dan bahan input lainnya sudah disediakan. Petani bukan hanya diberi petunjuk melainkan diperintahkan dengan sanksi hukuman. Petani menganggap penyuluh bukan sebagai sahabat tetapi suruhan pemerintah asing yang akan menindas rakyat.

SATEC: Himpunan Bantuan Teknik dan Kerja sama di Senegal
         Latar belakang: Kemerdekaan di Senegal menjadikan subsidi Perancis untuk harga salah satu budidaya utama Sinegal dicabut. Sebagai pilihan: menjual kacang dengan harga rendah/ mengalami turunnya pendapatan.
         SATEC: organisasi bantuan teknik semi swasta dengan dana dari dana pembangunan eropa dan Perancis.
         SATEC hanya sumber penyediaan nasehat dan pengetahuan, untuk bahan dan alat disediakan badan lain
         Membantu petani untuk memilih input dan alat pertanian yang tepat dg menerapkan cara kerja yg lebih efisien.
         Gol. Sasaran: program berat untuk petani besar > 10 ha dengan bantuan lembu, program ringan untuk petani lainnya.
         Bahan pendidikan: pengolahan tanah, rapatnya penanaman, cara menyiang, penggunaan insektisida.
         Hasil guna: dua tahun permulaan (1964-1965 dan 1965-1966) meningkat pesat, tapi di 2 tahun berikutnya hujan tidak turun, produksi merosot dan petani kecewa. Belum dpt dipastikan dimana letak kesalahannya, ada evaluasi dan reorganisasi yg drastic.
ORD dan SATEC adalah contoh dari pendekatan penyuluhan dalam rangka pembangunan pertanian. Ada beberapa kesulitan dlm program itu:
         Kekurangan anggaran belanja
         Masalah pengerahan, pendidikan dan pemanfaatan tenaga kerja
         Kurang dukungan usaha penelitian mengenai cara kerja yg sempurna
         Urutan prioritas dari berbagai tujuan
         Koordinasi usaha pendidikan dg penyediaan input dan jasa pelengkap


BAB 4. PROGRAM PENDIDIKAN BIDANG PERTANIAN

Pendidikan Petani Masa Singkat: pendidikan petani (FTC) di Kenya
Program ini dimulai pada pertengahan 60-an: awalnya bekerja efektif tapi pada akhirnya mengalami serangkaian masalah yang pelik. Tujuan program adalah petani subsistensi yg masih tradisional diubah menjadi petani modern yg komersial. FTC: Farmer Training Center, Pendidikan ini memerlukan sarana administrasi dan kelembagaan. Tahun 1961 sudah terdapat 13 pusat pendidikan petani dan tahun 1967 berkembang menjadi 27. Dari tahun ke tahun kursus ini semakin singkat, yang awalnya setahun hingga akhirnya hanya seminggu saja. Bahan pengajaran juga dikhususkan pada produksi komersial dan peternakan hewan. Masalah terakhir yaitu kapasitas sangat kurang dimanfaatkan, partipasi/ kehadiran petani merosot gawat, kesulitan memperoleh dana untuk biaya rutin (petani iuran US $ 2 seminggu), banyak sekali mutasi staf pengajar, rendahnya semangat kerja staf FTC, meningkatnya pemanfaatan fasilitas FTC oleh pihak luar.


Pendidikan Petani Jangka Lama:
(Pusat Pendidikan Penduduk di Pedesaan) RTC di Senegal
Menekankan pada pendidikan kejuruan klasik berjangka lama dengan dasar teori dan cara kerja serupa sekolah kejuruan industri. Bukan pelengkap untuk usaha penyuluhan tapi merupakan salah satu cabang dari rencana pendidikan rangkap tiga untuk daerah pedesaan yang hendak membentuk suatu golongan elit (petani, kaum tukang, dan pemuka wanita). Menerapkan azas pokok dan metode dari ILO. 4 ciri program pendidikan:
         menyesuaikan dg pola budidaya dan keadaan lingkungan di kampung halaman peserta,
         disesuaikan dg suatu siklus penuh,
         bagian terbanyak untuk kerja praktek di ladang,
         pelajaran di dalam kelas lebih banyak untuk diskusi
Hasilnya panen per ha pada ladang bekas siswa meningkat 50 – 100 %. Ada beberapa masalah terakhir, yaitu peserta pendidikan merupakan golongan elit baru sehingga kurang disenangi tetangganya, setelah pendidikan tidak ada tindak lanjut (penasehat teknik & alat produksi, serta alat pertanian), kadang mereka tidak dapat menerapkan teknologi baru yg dipelajari.

Melatih Penyuluh untuk Revolusi Hijau:
International Rice Research Institute(IRRI) di Filipina
Program pendidikan produksi padi dari IRRI mencerminkan suatu strategi unik dg tujuan meningkatkan kemampuan dan daya guna dari masing-masing jawatan penyuluhan pertanian di berbagai negara penghasil padi. Sasarannya adalah pejabat teras dinas penyuluhan, yg diharapkan kelak akan menyelenggarakan pendidikan semacam ini bagi pegawai bawahannya di negeri masing-masing. Dari ujian diagnostik kepada pejabat teras itu ternyata hanya 25% dari segala pertanyaan dapat dijawab, memberikan kesimpulan bahwa mereka belum mampu untuk mengidentifikasi masalah yang dihadapi petani di lapangan dan tidak sanggup menasehati cara penanggulangan yang tepat.
Ada beberapa kendala dalam pemanfaatan temuan IRRI: diperlukan perlakuan khusus bagi petani dengan lahan yg kecil, varietas unggul ini dikembangkan di daerah khusus di Filipina sehingga mungkin perlakuan akan berbeda jika diterapkan di daerah lain. IRRI akhirnya menyelenggarakan pelatihan juga agar hasil penelitian ini bisa segera dimanfaatkan, ada 3 program:
1.      Jadwal kursus disesuaikan dg siklus lengkap penanaman padi sehingga mereka seolah-olah menjadi petani
2.      Para siswa ditugaskan melaksanakan percobaan sendiri di sawah
3.      Penekanan pada teknik komunikasi dan pendidikan, tiap siswa harus menyusun program pendidikan dua mingguan lalu secara nyata mendidik kelompok kursus singkat



Membawa Usaha Pendidikan ke Daerah Petani:
Program Pembinaan Kejuruan Rakyat Pedesaan (PPP-R) dari SENA di Colombia
Pendidikan dilakukan ke daerah-daerah pelosok yang terpencil dengan menggunakan sarana pendidikan yg berkeliling. SENA: Dinas Pendidikan Magang Nasional Colombia yang bertujuan: meningkatkan ketrampilan dan memperluas kesempatan kerja bagi kaum buruh yg menganggur/ setengah menganggur. Selain itu jg untuk menekan arus urbanisasi. Kelompok Sasaran: golongan buruh, dewasa dan remaja, pria dan wanita, dibidang pertanian/ luarnya. Metode pengajaran lebih banyak yg bersifat praktek, dg lama kursus 40 jam – 120 jam dg kebanyakan masa kurang dari 1 bulan. Program ini membuktikan bahwa secara logis mungkin diadakan program pendidikan keliling skala besar yg menjangkau daerah terpencil. Namun evaluasi dr program ini adalah bahwa kursus yang diselenggarakan oleh SENA kurang berpengaruh besar, kecuali bila di daerah itu ada kerjasama dg suatu badan “land-reform”.

Ketrampilan yang Dibutuhkan di Pedesaan
  1. Pendidikan ketrampilan teknik untuk pemuda dan kaum dewasa usia muda untuk mempersiapkan mereka agar mendapatkan pekerjaan yg sesuai: Sekolah keliling untuk pendidikan kejuruan = Mobile Trade Training Schools(MTTS) di Thailand
  2. Penataran teknik untuk pengrajin dan tukang yg sudah bekerja (untuk meningkatkan mutu, keanekaragaman, produktivitas, dan pendapatan):Pusat Penataan Kejuruan (VIC) di Nigeria dan Program Penataran Kaum Tukang Pedesaan di Senegal
  3. Rencana pembinaan industri kecil yang lebih komprehensif, bantuan dlm mengusahakan kredit, jasa konsultasi teknik dan manajemen, dan jasa informasi dan advis lainnya (India)


BAB 5. PENDIDIKAN KEJURUAN LUAR PERTANIAN

Adanya pendidikan ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan kaum tani yang pada hakekatnya tidak hanya membutuhkan keahlian bertani saja tetapi juga kepandaian membuat dan mereparasi alat-alat dan bangunan yang sederhana, memasang dan memelihara saluran air, membuat tanggul-tanggul dan jalan-jalan, menjahit pakaian dan membuat barang kerajinan untuk dijual di pasar. Ada beberapa program pendidikan ketrampilan luar pertanian yang ternyata bercorak inspirasi dan improvisasi setempat dan bukan mencontoh model dari negara lain. Di Thailand, disebut Sekolah Keliling untuk Pendidikan Kejuruan = Mobile Trade Training Schools (MTTS). Di Nigeria, di enam Negara bagiannya didirikan Pusat-pusat Penataran Kejuruan (Vocational Improvement Center = VIC).

Uraian
MTTS
VIC
Tujuan
Menyediakan pendidikan ketrampilan serta memperbaiki kesempatan kerja
Meningkatkan ketrampilan tukang dan pembantu tukang yang sudah bekerja
Gol. Sasaran
Kaum pemuda, golongan dewasa usia muda yang pernah mendapat pendidikan formal ≥ 1 th
Usia 20 – 30 tahun, yang pernah menempuh pendidikan dasar di sekolah formal atau belum sama sekali
Organisasi & Fasilitas
Kementrian pendidikan bagian pendidikan, sekolah bersifat “keliling” dengan masa 3 tahunan
Tidak memiliki fasilitas fisik dan tenaga pengajar sendiri, silabus disesuaikan dengan ujan pertukangan pemerintah
Tenaga Pengajar
7 – 9 orang guru pria dan wanita
Tenaga pengajar ditarik dari industri swasta, bengkel pemerintah, dan guru
Bahan Pelajaran
Ada 6 – 8 jurusan kejuruan yang dipilih, kursus yang diberikan berdasarkan angka-angka pendaftaran. 300 jam pelajaran dan kerja praktek selama 5 bulan
Seluruh kursus bersifat part-time sehabis jam kerja, 4/ 5 hari seminggu sejumlah 400 jpl selama masa 10 bulan
Hasil guna
Jumlah peserta masih belum memenuhi target. Ada jurusan yang popular dan tidak
Tercipta tenaga kerja terampil yang berkesempatan bekerja di pemerintahan
Penilaian
Program cukup berhasil, namun perlu penyesuaian lama kursus dengan kejuruan. Tindak lanjut masih belum ada. Pendidikan kejuruan fulltime yang fleksibilitas dan berbiaya rendah
Lebih dari separoh dari peserta yang ikut ujian pertukangan pemerintah tapi hanya 22% yang lolos

Program untuk kaum tukang dan pengusaha kecil di India
1.      Program Industri Umum Skala Kecil: menyediakan pendidikan bagi majikan dan karyawan dari beranekaragam pengusaha kecil, baik pendidikan tenaga kerja maupun jasa.
2.      Program Industri Pedesaan (Rural Indutries Project): khusus ke arah pedesaan
3.      Program latihan di Gujarat untuk pengusaha baru
Membantu para insinyur dan tenaga teknik yang menganggur untuk dididik menjadi wiraswastawan indutri yang berdiri sendiri dengan membantu mereka memulai usahanya.
Kesulitan India adalah dalam penentuan dan pengklasifikasian sasaran program


BAB 6. PENDEKATAN SWADAYA BAGI PEMBANGUNAN PEDESAAN

Pada bab ini dibahas mengenai program-program yang didasarkan pada gagasan yang lebih luas yaitu gagasan yang didasarkan asumsi yang berbeda tentang cara yang tepat untuk menggerakkan usaha pembangunan.
Menurut pandangan penulis  untuk mengadakan pembangunan desa diperlukan perombakan yang mendasar mengenai seluruh lembaga, proses dan hubungan yang terdapat di daerah pedesaan dalam bidang ekonomi, sosial, politik, dan kebudayaan. Yang mereka pandang sebagai hambatan utama terhadap perombakan tersebut adalah sikap Fatalisme, sikap menerima nasib, dan sikap ketergantungan dan kurang yakin akan kemampuan diri yang secara tradisional menjadi sikap penduduk bersangkutan. Dan yang diperlukan selanjutnya menurut pandangan ini ialah menciptakan kesadaran dan pertisipasi politik dikalangan penduduk serta meningkatkan semangat gotong-royong dengan memperkokoh lembaga-lembaga demokrasi di daerah bersangkutan dan memperluas dasar kepemimpinan masyarakat. Para penganut aliran Pendekatan swadaya (self-help) dalam rangka pembangunan pedesaan mendasarkan strategi mereka lebih pada suatu teori pembangunan humanistis daripada teori pembangunan teknokrasi. Mereka menjujung tinggi daya ilmu pengetahuan dan teknologi, namun mereka lebih yakin kepada daya-suai manusia.
Kebanyakan kaum penganut pendekatan ini bersikap skeptis dan kritis terhadap pendidikan formal, karena  mereka berpendapat bahwa pendidikan formal lebih banyak mengasingkan kaum pemuda dari lingkungannya, dan kurang membantu mereka untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan itu, pendidikan sekolah formal lebih banyak mengikat mereka kepada suatu paham ortodoks, daripada membebaskan mereka untuk mengembangkan kepribadian sendiri. Namun para penganut tersebut lebih cenderung menyetujui pendekatan pendidikan non-formal yang berwujud penyuluhan dan pendidikan. Yang ditentangnya sikap otoriter yang seringkali menjiwai teknik pendikdikan non-formal tersebut.
Sekalipun program-program yang menjunjung pedekatan swadaya bersumber pada filsafat pembangunan yang sama, namun beberapa segi mereka saling berbeda. Diantaranya yaitu :
1.             Program Pembangunan Masyarakat  (CD = Communication Development) di India dan gerakan Animation Rurale (Penggairan Pedesaan) di Senegal keduanya merupakan kegiatan nasional semesta dengan dispnsori pemerintah, yang bertujuan membangkitkan semangat serta hasrat pembanguan di kalangan penduduk pedesaan dan untuk mencetuskan daya-kerjanya untuk membantu mencapai tujuan dan kebijaksanaan nasional dengan dibantu oleh pemerintah.
2.             Gerakan Pembanguan Pedesaan Filipina (PRRM = Philippine Rural Reconstruction Movement) sebagai gerakan sukarela dalam wilayah geografi terbatas di Filipina, namun kemudian menjalar mencakup negara-negara berkembang lainnya; gerakan ini mencerminkan suatu pola baru dalam usaha mengantar kaum petani tradisional ke dalam dunia modern, khususnya melalui pendidikan.
3.             Gerakan Kebudayaan Rakyat (ACPO = Accion Cultural Popular) di Colombia termasuk suatu kelompok tersendiri, karena merupakan suatu badan pendidikan nasional, swasta yang didukung oleh gereja yang bertujuan mendidik kaum campesino yang terlantar dan miskin agar dapat menjadi manusia modern yang diberi semangat dan sarana untuk memperbaiki nasib dengan kemampuan sendiri.


PENDEKATAN PEMBANGUNAN MASYARAKAT
           
Pendekatan Pembangunan Masyarakat tersebut bertujuan untuk menyempurnakan keadaan kesehatan, gizi, pendidikan golongan dewasa dan kesejahteraan masyarakat umum di daerah pedesaan. Tetapi yang menjadi tujuan utamanya ialah pengembangan sosial, bukan pengembangan ekonomi.
            Program tersebut yang dimulai di India pada tahun 1952 mencakup tujuan pengembangan sosial dan juga ekonomi serta lebih banyak corak kegiatannya.

Program Pengembangan Masyarakat (CD) di India
Program ini pada mulanya diselenggarakan sebagai suatu proyek perintis dengan pola sempurna, kemudian karena desakan dan harapan rakyat yang meningkat, proyek tersebut diperluas pada skala nasional dalam rangka Rencana Pembangunan Lima Tahun. Yang bertujuan untuk menyediakan jasa-jasa keahlian dari kementerian Pertanian, Kesehatan, Pekerjaan Umum, Koperasi dan Industri Kecil, guna menunjang usaha pembangunan masyarakat dan alat bagi masyarakat pedesaan untuk memperbaiki keadaan pertanian, kesehatan, pendidikan dan perumahan dengan menyelenggarakan program biaya ringan untuk menyediakan bantuan teknik dan pendidikan non-formal yang bertujuan menggali dan menyalurkan dan konstruktif dari penduduk desa itu sendiri.
Organisasi dan Kepegawaian di Negara yang berpenduduk terbanyak nomor dua, sangat menarik perhatian; pertama karena organisasi itu meletakkan dasar bagi program pembangunan masyarakat dimasa kemudian, dan kedua karena ia menonjolkan kesulitan hakiki untuk usaha memanfaatkan sumberdaya dari kelompok birokrasi yang masing-masing berfaham berlain-lainan, untuk menciptakan suatu gerakan pembangunan pedesaan yang terpadu suatu yang sulit bagi negara manapun juga. Suatu Pembaharuan yang penting, ditampilkan sebagai hasil evaluasi kritis terhadap pengalaman CD pada zaman permulaan, ialah sistem Panchayat (Dewan Rakyat) tiga tingkat, yaitu pada tingkat desa,”block” dan distrik, tujuannya untuk memberi peranan yang lebih penting kepada tokoh-tokoh yang dipilih oleh penduduk untuk segala kegiatan mengenai perencanaandan pelaksanaan usaha pembangunan di pedesaan didaerahnya masing-masing dengan demikian memperkokoh lagi semangat swakarsa.
Program Pendidikan, hampir seluruh usaha pendidikan dalam rangka program CD bersifat non-formal dan tidak baku. Petugas tingkat desa (VLW = Village Level Worker) sering didampingi oleh tamu tenaga ahli tingkat “block” atau distrik, bertindak sebagai petugas penyuluhan berkenaan dengan aneka ragam soal.

PENDEKATAN “ANIMATION RURALE” (AR)                 
Di Afrika wilayah bekas jajahan Perancis (Franciphone Afrika), seperti halnya Gerakan Pengembangan Masyarakat (CD) telah digairahkan oleh keyakinan bahwa pembangkitan hasrat dan semangat penduduk pedesaan merupakan syarat mutlak untuk setiap usaha pembangunan pedesaan. Gerakan “Animation Rurale” muncul sebagai suatu gerakan nasional dengan maksud melaksanakan sasaran dan rencana pembangunan nasional yang luas. Namun, berlainan dengan gerakan CD, animation rurale ini memusatkan usahanya kepada identifikasi dan pendidikan secara sistematis untuk suatu kelompok perintis atau “animateurs”, yang harus bertindak selaku perintis dan katalisator pembaruan di daerah pedesaan dan sebagai tokoh penghubung di antara fihak pemerintah dengan penduduk pedesaan.

Gerakan Animation Rurale (AR) di Senegal
Latar belakang. Intisari (AR) ini suatu panduan gagasan sosiologi dan politik dengan sedikit bumbu ekonomi, ialah anggapan bahwa kaum petani di pedesaan harus digairahkan oleh seorang teman sekampung agar mereka mampu menyadari dan mengungkapkan hasrat dan perbaikan nasib sendiri, dan berprakarsa untuk mengadakan tindakan swakarsa, dan untuk menuntut bantuan dan jasa-jasa yang dibutuhkan dari pihak Pemerintah pusat atau dinas-dinas teknik lainnya, untuk memperlancar usaha swakarsa itu untuk turut menjamin tercapainya cita-cita dan sasaran nasional.
Tujuan. Gerakan ini dari segi politik dipandang sebagai suatu sarana untuk melaksanakan “dekolonisasi” hubungan warisan jajahan diantara pemerintah pusat dengan rakyat jelata di pedesaan, dan untuk menyebarkan “keagaiban pembangunan” serta mobilisasi rakyat pedesaan untuk menampilkan prakarsa pembangunan yang timbul dari urat akar penduduk desa.
Organisasi. Setelah gerakan (AR) mulai bergerak, serangkaian lembaga-lembaga muncul disekitarnya untuk turut mendukung strategi menuju modernisasi cara-cara bercocok tanam tradisional, meningkatkan produk pertanian, mengusahakan penganekaragaman budidaya, dan memberi peranan lebih besar kepada penduduk desa dalam usaha pembangunan Nasional melalui pembentukan koperasi-koperasi petani dan perencanaan berdesentralisasi.
Metode. Para perintis atau “animateurs” itu adalah kaum petani desa yang dipilih atas dasar musyawarah dengan penduduk desa. Mereka menempuh latihan intensif pada pusat Animation Rurale dalam ilmu kewarga-negaraan, maksud rencana pembangunan nasional, metode pengelolaan koperasi, inovasi dalam bidang pertanian dan perhewanan.
Reorganisasi. Pada tahun 1967 Pemerintah pusat mengalami reorganisasi dalam sruktur administrasi pembangunan pedesaan, yang diperlukan kaum petani ialah jasa teknik tertentu, bukan jasa-jasa pendidikan umum atau penasehatan yang disediakan oleh program AR.
Penilaian. Gerakan AR di Senegal telah mencapai sasaran pertama yaitu menggairahkan minat penduduk desa terhadap usaha pembangunan dan membangkitkan kesadaran AR, gerakan tersebut dilepaskan kementerian pertanian dirombak menjadi “promotion humanio” –“pembinaan watak kemanusiaan” dan dijadikan suatu program kebudayaan dan pendidikan dalam lingkungan kementerian dan olahraga. Interprerasi yang paling gamblang bahwa di Senegal dan seluruh dunia yang berkembang, keseluruhan proses untuk merombak masyarakat dan lembaga-lembaga pedesaan dalam prakteknya ternyata jauh lebih berat dan pelik daripada yang diperkirakan semula.

PROGRAM DENGAN DASA SWAKARSA

Gerakan swakarsa di India dan di Senegal merupakan gerakan nasional semesta yang diarahkan oleh pemerintah, dan dikaitkan dengan rencana dan kebijaksanaan pembangunan nasional. Keunggulan dan kelemahan hakiki berlaku baik terhadap pendidikan formal maupun pendidikan non-formal. Terutama penting berkenaan dengan usaha swadaya didaerah pedesaan, karena keberhasilannya mutlak ditentukan oleh mutu dan kesinambungan tokoh-tokoh yang bekerja pada tingkat daerah. Tidak semua program swakarsa menitikberatkan peranan koperasi ataupun perpaduan input pendidikan dengan faktor-faktor pelengkapnya. Program Gerakan Kebudayaan Rakyat (Accion Cultural Popular = ACPO) di Kolombia, memiliki berberapa ciri khas dan terbukti kegunaannya selama dua dasawarsa ini, salah satu ciri khas itu adalah penggunaan teknik pendidikan multi-media untuk menjangkau penduduk pedesaan seluruh negeri; penggunaan tenaga sukarelawan di daerah; dan sejarahnya sebagai badan swakarsa atau sukarela yang banyak mengumpulkan dana dengan kegiatannya yang menghasilkan pendapatan uang.

Gerakan Pembangunan Pedesaan Filipina (PRRM)
Latar belakang. Keadaan di daerah pedesaan di Filipina pada pertengahan pertama dasawarsa 50-an sangat rusuh. Kebanyakan penduduk hidup miskin, beberapa daerah  dikuasai oleh gerakan Huk Balahap, yang umumnya dianggap dikuasai oleh golongan komunis. Ketika Y.C.”Jimmy” Yen, seorang tokoh dengan sifat-sifat prikemanusiaan dan kepemimpinan unggul dan berpengalaman dalam kegiatan pembangunan Pedesaan di Tiongkok masa sebelum perang bersedia menyelenggarakan suatu proyek pembangunan pedesaan di Filipina, Pemerintah dengan gembira merestuinya. Maka pada tahun 1952 didirikan PPRM.
Tujuan. Strategi program ini diarahkan pada pembongkaran apa yang dipandang sebagai hambatan terhadap peningkatan mutu kehidupan di pedesaan, yaitu: Kemiskinan, penyakit, kebodohan, dan sikap apati penduduk.
Hasil guna. Karena telah terbukti keefektifan metodologi untuk menggairahkan pembangunan pedesaan, usaha PPRM telah merangsang pembentukan (1956) dari suatu program resmi pemerintah yang disebut Penyambung Tangan Presiden untuk pembangunan masyarakat (PACD = Presidential Arm for Community Development), dan kepada PPRM diminta bantuan untuk melatih tenaga kerja untuk program pemerintah ini atas dasar kontrak.
Penilaian. Sekalipun telah berhasil dengan baik, pihak PPRM pada tahun 1971 dihadapkan dengan 2 masalah yang parah: Pertama, Mengenai kelestarian impaknya yaitu apakah mungkin diciptakan suatu proses pengembangan yang berkesinambungan, sekiranya gerakan PPRM mundur dari suatu daerah tertentu. Kedua, soal kemungkinan mengerahkan tenaga sarjana muda yang cakap dan bermotivasi tinggi untuk bertugas selaku petugas (RRW = Rural Reconstruction Worker/ Petugas Pembangunan Pedesaan) entah apa sebabnya akhir-akhir ini sangat merosot tersedianya tenaga sukarela yang memenuhi syarat-syarat.

Gerakan Kebudayaan Rakyat (ACPO)
Kelompok sasaran. Gerakan ACPO di Kolombia, yaitu suatu gerakan yang didukung namun tidak dikelola oleh gereja Katolik. Memulai usahanya tahun 1947 dengan siaran pendidikan dari suatu tempat pemancar radio. Namun semenjak itu dikembangkan menjadi suatu sistem pendidikan aneka-media yang ditujukan kepada seluruh penduduk di daerah pedesaan, sasaran utamanya masyarakat yang paling miskin.
Tujuan. Membina motivasi untuk pembangunan dikalangan kaum “campesino” dengan menyediakan kesempatan untuk meningkatkan kemampuan dan tarah kesejahteraan sendiri. Merangsang proses ekonomi dengan penyebarluasan teknologi pertanian yang mutakhir, membina pemahaman dan perngertian tentang berbagai lembaga dan kegiatabn ekonomi dan kesadaran tentang kemuliaan karya. Memupuk pengembangan spiritual dengan membantu kamum Campesinon aga menyadari kemampuan masing-masing untuk menjadi pelaku pembangunan sosial.                                                                                     
Hasil Guna. Usah penilaian ACPO sangat luas dan jujur, namun banyak terdapat dokumentasi tentang hasi-hasil kuantitatif daripada kualitatif. Menurut keterangan 20.000 golongan buta huruf telah pandai baca tulis pada akhir tahun itu, 92.000 siswa mengikuti kursus lanjutannya diantaranya 15.000 berhasil lulus dalam ujian penutupnya. “El Campesino” terjual 70 eksemplar tiap minggunya.
Penilaian. Terdapat indikasi bahwa efek dari program ACPO juga berbeda-beda terhadap kelompok-kelompok penduduk tertentu di wilayah yang sama, misalnya kaum petani yang memiliki tanah sendiri (sekalipun berukuran kecil dan hanya melakukan pertanian substensi saja) lebih besar mengharapkannya akan menanggapi dan menerapkan pembaruan yang diajurkan oleh sekolah radio, hanya sedikit petani yang tidak memiliki tanah, yang mengikuti pelajaran sekolah radio.

SWAKARSA DENGAN SARANA KOPERASI
Suatu syarat mutlak untuk menjamin keberhasilan gerakan koperasi ialah suatu sistem yang mantap untuk mendidik dan melatih para anggota dan karyawan koperasi pada tiap-tiap tingkat, serta juga untuk para pejabat yang bertugas mengawasi koperasi itu.


Sistem Pendidikan Warga Koperasi di Tanzania
Latar belakang. Kepada gerakan koperasi diserahkan peranan utama dalam strategi asli negara Tanzania yang bertujuan mengubah daerah pedesaan yang amat luas untuk menjelma sebagai suatu masyarakat agraria Afrika gaya baru yang didasarkan kepada asas-asas sosialisme.
Organisasi. Struktur vertiksl gerakan koperasi didasarkan sekitar 1.800 “koperasi primer” pada tingkat lokal, dengan “gabungan” (union) pada tingkat daerah, dan persatuan koperasi Tanzania sebagai organisasi puncak.
Penilaian. Sistem pendidikan perkoperasian di Tanzania ada diselenggarakan dan telah dapat melayani kelompok sasaran yang besar jumlahnya dan terpencar-pencar kediamannya masing-masing dalam waktu relatif singkat, dengan secara imajinatif dan non-konvensional memanfaatkan aneka ragam metode pendidikan dan media.

PENDEKATAN TINGKAT DASAR MENUJU PEMBANGUNAN
Suatu pendidikan perkoperasian yang bertolak belakang dilukiskan pada proyek Comilla di daerah Benggala Timur negara Pakistan dulu (kini Bangladesh). Komponen pendidikan dari proyek Comilla tersebut amat mengesankan karena ia berwujud suatu badan penyuluhan dimana sebagian besar kegiatannya mengalir dari atas ke bawah (top down). Struktur pendidikan yang dari semula menitikberatkan peningkatan produksi hasil bumi, telah menyediakan kerangka untuk pendidikan secara jauh lebih luas sebagai dasar untuk melayani kebutuhan daerah akan usaha pembangunan.

Proyek Comilla
Tujuan Bidang Pedidikan. Bahwa penduduk desa sendiri memilih seorang warga untuk bertindak selaku penghubung urusan pendidikan dengan berbagai sumber pengetahuan yang sesuai dengan kebutuhannya (menurut pandangan mereka sendiri). Kegiatan ini merupakan bagian dari suatu rangkaian prosedur mengenai pembentukan, pengurus dan penyelelenggara berbagai koperasi lokal, yang dibina pada waktu bersamaan oleh pihak akademi Pembangunan Pedesaan bersama dengan penduduk desa.
Struktur. Tokoh “organisator” serta seorang “petani teladan” yang dipilih pula bertindak sebagai guru pertanian utama dalam lingkungan masyarakat sendiri, dan bukanlah seorang petugas penyuluhan dari luar desa. Para wakil koperasi itu secara berkala mengunjungi akademi untuk menerima pelajaran dan nasehat dari seorang ahli, disamping bantuan teknik berkenaan dengan masalah yang telah diperincikan sendiri berdasarkan pada perundingan rapat koperasi.
Penilaian. Hingga pada saat kekacauan karena perang kemerdekaan tahun 1971, proyek Camilla mempunyai riwayat keberhasilan yang gemilang, disamping berbagai masalah yang cacat yang menahun. Proyek itu telah membuktikan cara bagaimana dapat diberi hak bersuara dan peranan aktif yang lebih besar kepada penduduk dan pejabat di daerah dalam usaha pengembangan pedesaan, serta juga suatu cara yang mantap untuk merangkapkan jasa-jasa untuk pedesaan dari badan-badan pemerintah yang jauh letaknya, termasuk jasa pendidikan agar merupakan satu bingkisan yang lebih terpadu dan efektif.
BAB 7. PENDEKATAN TERPADU MENUJU PEMBANGUNAN

Pendekatan terpadu didasarkan pada pemikiran bahwa untuk mendorong kemajuan pertanian diperlukan suatu rangkaian faktor-faktor tertentu, dan bukan hanya diperlukan teknologi serta pendidikan yang tepat, melainkan juga penyediaan input dan pasaran, serta harga yang menguntungkan. Semakin banyak pengamat mengenukakan bahwa mutlak perlu diciptakan suatu infrastruktur kelembagaan dan fisik yang serasi di pedesaan, untuk menyediakan jasa-jasa angkutan, perkreditan, input dan pemasaran yang perlu untuk mencapai pembangunan, disamping jasa-jasa informasi dan pendidikan.
Pandangan aneka sistem berkenaan dengan pembangunan pertanian dengan laju tersebar selama akhir tahun 60-an dan awal 70-an, dan menghasilkan proyek-proyek pebangunan pertanian yang bersifat lebih komprehensif. Aliran ini ditonjolkan pada empat proyek yaitu: Unit Pengembangan Pertanian Chilalo (CADU = Chilalo Agricultural Development Unit), Etippia; Program Kredit dan Kerjasama Pertanian (PACCA = Programme on Agricultural Credit and Cooperation in Afganistan; proyek Pueblo di Meksiko dan Program Pengembangan Tanah Lilongwe di Malawi. Proyek IADP di India di mulai sebagai gagasan tentang suatu usaha penanggulangan kekurangan pangan yang semakin gawat, dan untuk sebagian besar diselenggarakan oleh pihak pemerintah sendiri. Proyek PACCA dan CADU di dasarkan kepada keyakinan yang bersumber pada dunia barat, bahwa suatu pendekataan yang lebih berencana serta lebih terpadu berkenaan dengan produksi hasil bumi, dengan memanfaatkan koperasi selaku sarana utama, mungkin merupakan upaya yang paling ampuh untuk membebaskan kaum penduduk pedesaan dari cengkeraman subsistensi, seraya bersamaan waktu dapat diusahakan keadilan sosial serta peningkatan mutu keluarga dan mesyarakat. Para perencana proyek Lilongwe mendambakan tujuan yang sama, namun mereka tidak menitikberatkan organisasi koperasi.

DARI KEBERHASILAN EKONOMI MENUJU PEMBANGUNAN SOSIAL
Rencana Gezira.di Sudan khusus mengesankan karena perkembangan selama beberapa dasawarsa dari suatu proyek dengan tujuan ekonomi terbaatas, hingga menjadi proyek yang bersifat luas dengan tujuan sosial yang penting-penting, karena poryek ini menggarisbawahi kenyataan bahwa kemajuan ekonomi melulu tidak akan cukup untuk menghasilkan perombakan suatu masyarakat. Proyek Gezira menujukkan bahwa mudah saja menggabung beberapa unsur ke dalam manajemen yang sama untuk pembangunan pertanian dan pedesaan.
Tujuan Semula dan Metode. Proyek Gezira diluncurkan segera setelah habis perang dunia I di bawah penguasa jajahan inggris sebagai suatu proyek irigasi besar-besaran dengan tujuan untuk meningkatkan produksi kapas yang potensial menguntungkan disuatu daerah di Sudan, yang pada permulaan mencakup daerah sebesar 100.000 acres, dan berangsur-angsur diperluas sampai mencakup sekitar sejuta acres dengan 120.000 kepala keluarga petani.
Hasil dan Perluasan Tujuan. Menjelang tahun 1940, karena alasan politik dirasakan mutlak perlu menungkatkan mutu kehidupan keluarga dan masyarakat, untuk menjamin bahwa penduduk daerah pedesaan jangan terlalu jauh tertinggal oleh penduduk kota yang keadaannya semakin membaik, dan untuk melangkah maju ke arah “Sudanisasi”. Salah satu langkah permulaan kearah “Sudanisasi” ialah memberi pendidikan dalam bidang pertanian kepada tokoh penduduk tertentu, agar mereka akan dapat mengganti pegawai bawahan dari sindikat. Karena disadari betapa rawannya suatu pendekatan otoriter dalam pekerjaan penyuluhan pertanian, pihak sindikat mengakui bahwa “perlu lebih banyak dilaksanakan pendidikan praktis dalam bidang pertanian, disamping hanya memberi perintah saja.

Menangkis Bahaya Kelaparan : Program IADP di India
Latar belakang. Selama dasawarsa 50-an situasi penyediaan pangan di India terus menerus memburuk, yang bertanbah parah karena pesatnya pertumbuhan penduduk. Sekiranya tidak diadakan impor bahan pangan besaar-besaran dari negara barat, pasti terjadi bahaya kelaparan yang gawat pada waktu musim gersang pada tahun-tahun 1957 dan 1958.
Tujuan. Suatu team ahli internasional dalam laporannya kepada pemerintah India memperingatkan bahwa krisis pangan itu bukan suatu yang sementara saja, akan tetapi lebih gawat lagi, sekalipun pada tahun-tahun musim hujan yang deras, kecuali ada tindakan tegas untuk menanggulanginya. “Program Paket” dengan 10 pokok anjuran diajukan oleh team tersebut dan diterima oleh pemerintah India dengan beberapa penyesuaian, dan dijadikan dasar bagi Program Distrik Pertanian Intensif (IADP) yang dilancarkan pada tahun1960.
Organisasi. Pada permulaannya IADP hendak dilaksanakan pada suatu distrik berpotensial tinggi, masing-masing diantara 10 negara bagian yang terdapat di India pada waktu itu. Pada setiap distrik bersangkutan diangkat seorang direktur proyek dengan seregu para ahli pertanian, yang sekalipun dibimbing oleh kepala pemerintah distrik (District Collector) diberi keleluasaan besar sekali untuk merencanakan dan melaksanakan suatu rencana pengembangan pertanian yang disesuaikan dengan kebutuhan distrik dan persediaan sumberdaya.
Hasil Guna.  Pada akhir dasawarsa 60-an dan permulaan dasawarsa 70-an banyak hambatan bagi peningkatan produksi pertanian telah disingkirkan, dan produksi biji-bijian di India mulia meningkat, dan distrik-distrik IADP jelas menunjukkan keunggulan dibanding dengan distrik lain.

PENDEKATAN PAKET KOMPREHENSIF
IADP, bersama proyek Commila dan eksperimen Israel dalam usaha pembangunan pertanian terpadu, banyak pengaruhnya atas desain untuk proyek CADU di Etiopia dan terhadap bantuan bilateral swedia (SIDA) untuk memberi dukungan besar dan berjangka lama pada proyek tersebut. Para pejabat bantuan Swedia telah menarik kesimpulan bahwa untuk memberi dorongan kuat kepada pengembangan pertanian sebagai prasarat untuk memperbaiki nasib petani di masyarakat yang miskin, diperlukan suatu pendekatan yang lebih Komprehensif serta lebih berkoordinasi agar pertaniannya dapat didorong maju.

Unit Pengembangan Chilalo (CADU)
Latar Belakang. Daerah Chilalo di Etiopia yaitu lokasi proyek CADU pada dasarnya merupakan daerah pedesaan tradisional yang statis. Sebelum tahun 1968, tahun dimulainya pelaksanaan CADU, hanya dilaksanakan uasaha pembangunan kecil-kecilan, yang hampir tidak ada perubahan yang nyata, kecuali bagi segelintir kaum petani yang berada, dengan ladang yang cukup luas dan yang bersifat Progresif.
Perencanaan. Setelah Chilalo ditunjukkan sebagai daerah proyek maka diselenggarakan penelitian intensif dalam bidang agronomi, kehewanan, kehutanan, lingkungan ekonomi dan sosial, dan disusun suatu rencana kerja untuk program jangka 13 tahun, terdiri atas tahap pertama selama 3 tahun, dengan tahap kedua dan ketiga, masing-masing selama 5 tahun.
Tujuan. Sasaran proyek ini ialah : (1) Melaksanakan pembangunan ekonomi dan sosial diseluruh wilayah proyek; (2) Membangkitkan kesadaran dan rasa tanggung jawab penduduk berkenaan dengan usaha pembangunan; (3) Menguji kesepadanan dari berbagai metode pengembangan pertanian; dan (4) Mendidik tenaga pribumi Etiopia untuk bertugas dalam pembangunan pedesaan.
Kelompok Sasaran. Yang dijadikan sasaran CADU ialah Petani penggarap golongan menengah dan kecil di wilayah proyek.
Penilaian. Sejauh ini kesulitan pokok yang dialami dalam usaha melaksanakan proyek CADU hanyalah yang bersifat politik saja. Kaum petani kaya, yang tidak diikut sertakan dalam program, merasa kurang senang dan melakukan perlawanan, sedang desakan yang dilakukan oleh pimpinan proyek agar diadakan “land-reform” juga telah membangkitkan Pertentangan politik.

Program Kredit dan Koperasi Pertanian di Afganistan
Tumbuh berkat adanya minat bersama pada pihak FAO dan SIDA untuk mengembangkan gerakan koperasi sebagai upaya untuk menanggulangi hambatan kredit pertanian, dan secara lebih luas, mengadakan suatu pendekatan yang lebih menyeluruh serta lebih terpadu terhadap usaha pengembangan pertanian, dengan memberi peranan penting kepada organisasi kaum petani sendiri.
Tujuan. Namun tujuan pokok dari proyek PACCA bukanlah sekedar meningkatkan produksi pertanian di kedua daerah tersebut, namun memperkenalkan lembaga-lembaga muktahir yang akan memungkinkan kaum petani untuk mengatur usaha sendiri, kemudian lembaga serupa itu hendak disebarkan pula di seluruh negara Afganistan.
Struktur. Rencananya proyek PACCA disusun berlandaskan pada empat buah lembaga baru diciptakan, yaitu : (1) Markas proyek Kabul, erat hubungannya dengan kementrian pertanian; (2) Dua buah pusat pembangunan (di Koh-i-Daman dan Baghlan) berhubungan dengan petani mengurus pengkreditan, penyediaan sarana produksi fisik dan jasa-jasa pendidikan, sebagai lembaga persiapan untuk gerakan koperasi yang akan dikembangkan; (3) Sebuah pusat lembaga pendidikan (Institut Pendidikan Perkoperasian, Perkreditan dan Penyuluhan), bertempat dekat Kabul yang khusus mengurus pengembangan tenaga kerja baik untuk usaha proyek, maupun untuk lembaga jasa-jasa perkreditan dan pertanian nasional.
Hasil Guna. Pada akhir tahap 3 tahunan pertama, PACCA sudah berjalan lancar. Telah mencapai kemajuan besar dalam program pendidikan yang bercorak-ragam, sekalipun memang mengalami penundaan dan kelambanan, khususnya dengan lambat sampainya tenaga kerja serta alat perlengkapannya, sehingga prestasi yang tercapai masih jauh di bawah tingkat sasaran semula.
Ajaran yang penting yang dapat ditarik dari proyek PACCA ialah Bahwa suatu proyek perintis yang diadakan pada wilayah tertentu dari suatu negara, betapapun ampuhnya perencanaan dan pelaksanaannya tak mungkin luput daripada berbagai pengaruh dan pembatasan yang timbul akibat situasi dan kebijaksanaan ekonomi dan sosial dalam negeri, bahkan dari keadaan pasar dunia, yang letaknya diluar kekuasaan pihak pimpinan proyek.

USAHA MENINGKATKAN PRODUKSI DI DAERAH BERPOTENSI RENDAH
Dari proyek PACCA kita beralih ke proyek terpadu lainnya yaitu Proyek Puebla di Meksiko diadakan denga tujuan dan kelompok sasaran yang serupa, namun diterapkan metode yang sangat berbeda. Jika pada proyek PACCA terdapat rasio tinggi antara petugas penyuluhan dengan kaum petani, rasio itu sangat rendah pada proyek Puebla. PACCA melayani petani perorangan, sedangkan Puebla melayani kelompok-kelompok petani dengan perantara ketua kelompok. PACCA menyelenggarakan lembaga pendidikan untuk karyawannya sendiri sedangkan Puebla mengandalkan bantuan institut pertanian. PACCA kurang erat hubungannya dengan usaha penelitian, sedangkan Puebla bahkan diprakarsai oleh suatu lembaga penelitian pertanian, yang selanjutnya tetap memegang peranan penting dalam proyek Puebla.
Proyek Puebla. Dorongan mengadakan proyek Puebla di Meksiko bersumber kepada keresahan dikalangan peneliti pada pusat Penyempurnaan Gandum dan Jagung Internasional (CIMMYT) bertempat di dekat Mexico city, karena kurang diterapkan teknologi yang disempurnakan (termasuk Varietas unggul jagung) oleh kaum petani subsistensi yang kecil-kecil, pada ladang tadah-hujan, dibanding dengan luasnya penerapan dikalangan petani berladang besar, di daerah dengan keadaan lingkungan yang lebih menguntungkan.
Tujuan. Membina suatu metodelogi untuk membantu 46.000 orang petani subsistensi kecil-kecilan di daerah ladang tadah hujan tersebut, untuk meningkatkan kadar gizi dan jumlah pendapatan mereka dengan meningkatkan hasil bahan pangan, umpan hewan dan komoditi komersial.
Pengelolaan. Orgasnisasi dan personalia proyek Puebla ini sangat sederhana mengingat bahwa ia merupakan upaya yang bertujuan melepaskan kaum petani miskin dari cengkeraman pertanian subsistensi, staf pimpinan terdiri atas seorang direktur kerja sambilan di Mexico city (yang merangkap jabatan maha guru dan ahli komunikasi pada akademi pertanian di Chapingo) dan seorang direktur lapangan yang bertugas penuh di Puebla city. Administrasi proyek diurus oleh (CIMMYT) regu proyek di Puebla diberi dukungan oleh para peneliti dan ahli spesialis lainnya pada akademi Chapingo, dan lingkungan CIMMYT, serta departemen pertanian tingkat pusat dan negara bagian.
Kepegawaian. Pejabat penyuluhan utama adalah sarjana yang cerdas,tangkas, berpendidikan sempurna, lulusan akademi Chapingo atau akademi pertanian lainnya di Meksiko. Setelah bekerja selama 2-3 tahun para sarjana itu lazimnya melanjutkan studi paska sarjana pada akademi di Chapingo untuk mengikuti program yang dapat meningkatkan ketrampilan untuk bekerja secara efektif pada program-program pembangunan daerah pedesaan.
Hasil guna. Hasil pertemuan pertama bagi para ahli peneliti ialah bahwa dalam keadaan lingkungan yang buruk dan kurang menentu di daerah Puebla ternyata jagung jenis criolla pada umumnya terbukti lebih unggul daripada varietas baru yang dikembangkan pada Lembaga Riset Pertanian Nasional (INIA) dan CIMMYT.
Dapat kita tarik dari pengalaman selama masa permulaan proyek, ialah bahwa para ahli pertanian yang bermaksud hendak menolong kaum petani untuk memperbaiki nasib dan menambahkan produksi dan pendapatan, sebaiknya harus terlebih dahulu segala faktor ekonomi dan lain-lain dalamsetiap situasi khusus, yang turut pertimbangkan oleh kaum petani dalam mengambil suatu keputusan.

USAHA PEMBANGUNAN AMBISIUS DI NEGARA KECIL
Beberapa masalah yang berkenaan dengan rencana pembangunan pedesaan yang paling luas, komprehensif serta paling terpadu diantara segala program yang kami jumpai selama studi kami ini, yaitu: Program pengembangan tanah di Lilongwe, Malawi, yang diselanggarakan dengan pinjaman “Paket Terpadu” pertama yang pernah dikeluarkan oleh Bank dunia dalam tahun 1968.

Program Pengembangan Tanah Lilongwe
Diselenggarakan di daerah pusat Malawi meliputi lebih dari 1,1 juta acre dari tanah yang paling subur diseluruh negara Malawi. Kebanyakan para petani diwilayah tersebut selain menanam bahan pangan untuk keperluan keluarga, sejak lama melakukan budidaya komersial, terutama jagung, kacang tanah dan tembakau. Jumlah produksi mereka dibatasi bukan karena kurang tersedianya tanah garapan, melainkan cara kerja yang primitif. Asal saja mereka dapat  memanfaatkan tenaga hewan serta input dan cara kerja yang lebih sempurna tingkat produktifitasnya akan dapat naik banyak sekali.
Tujuan. Tujuan jangka pendek ialah meningkatkan produksi pertanian dan mengantarkan para petani yang sudah mencapai taraf pertanian setengah komersial, agar memasuki lingkungan ekonomi uang tunai sepenuhnya. Tujuan jangka panjang ialah mengusahakan pembangunan daerah pedesaan dalam arti kata yang luas untuk menyempurnakan penyediaan jasa-jasa pengobatan, pemerintahan daerah, pendidikan wanita dan remaja, dan mutu kehidupan umumnya diwilayah tersebut.
Perencanaan Usaha Pembangunan
Agar dapat bergerak cepat menuju sasaran tersebut, rencana proyek ini memerlukan penanaman modal yang besar dan bantuan teknik yang intensif. Rencana ini mencakup komponen-komponen berkenaan dengan fasilitas kredit dan pemasaran,konversi tanah, dan pengairan, pembuatan jalanan, suatu program peternakan, dan pengembangan suatu infrastruktur adminitratif dan sosial, termasuk fasilitas pendidikan dan kesehatan.
Pimpinan Dan Personalia. Tanggung jawab bagi usaha pembinaan pembangunan dan penyelengaraan suatu sistem pengajaran yang beranekaragam itu diserahkan kapada seorang pemimpin program pendidikan, yang diberi wewenang untuk menarik tenaga ahli dan pejabat untuk membantu usaha pendidikan ini, serta mengatur suatu pusat lembaga pendidikan,dan mengawasi suatu jaringan fasilitas-fasilitas pendidikan.


BAB 8. KUPASAN MENGENAI SISTEM PENDIDIKAN DAN PENELITIAN DALAM BIDANG PERTANIAN

SUASANA PENDIDIKAN PETANI 
Program-program itu masing-masing harus dipandang sebagai komponen-komponen dari suatu sistem pelimpahan pengetahuan yang bertujuan menolong kaum petani beserta keluarganya masing-masing untuk menarik manfaat seoptimal mungkin dari kesempatan yang tersedia bagi mereka. Selanjutnya harus dipandang pula sebagian dari suatu sistem pengembangan pertanian dimasing-masing daerah pedesaan, disamping unsur-unsur pendidikan, juga mencakup beberapa faktor luar pendidikan yang mutlak diperlukan.

Faktor Utama Yang Menentukan Produktifitas
Soal efisiensi intern (efektivitas biaya) dan produktifitas ekstern (bandingan biaya/manfaat) ditentukan bukan semata-mata oleh segala apa yang dilaksanakan dalam program saja melainkan juga oleh : (1) Segala macam dukungan yang diperoleh dari komponen lain dalam rangka sistem pengetahuan pertanian ;(2)  Segala karakteristik lingkungan (ekologi), ekonomi, politik dan sosial serta  potensi pengembangan dari suatu bidang khusus pertanian, dimana program itu sedang diselenggarakan; (3) Ciri –ciri khas kaum petani bersangkutan, serta seberapa jauhkah pengetahuan yang ditawarkan kepada mereka ada relevansinya dengan kepentingan dan motivasi kaum tani itu; (4) Ada atau tidakkah tersedia faktor pelengkap usaha pembangunan (misalnya: penyediaan kredit,air, sarana produksi kimiawi, kesempatan pemasaran, dan insentif yang menarik) dan bagaimana input pendidikan dikaitkan dengan faktor-faktor pelengkap tersebut.

MENGIDENTIFIKASI KEBUTUHAN PETANI AKAN PENGETAHUAN
Ajuran praktek untuk para petani kadangkala sudah cocok dengan keadaan setempat, karena para ahli yang bertanggungjawab memang secara seksama telah menelaah kebutuhan setempat, namun lebih sering anjuran itu kurang tepat dan akan ditolak oleh kaum tani, karena kurang tepat diadakan diagnosa mengenai kebutuhan meraka, dan khususnya mengenai faktor-faktor ekonomi dan keadaan mereka.
Seorang Petugas  penyuluhan yang sangat cerdas, dan benar-benar mengenali kaum petani yang dilayaninya, telah berhasil mengadakan diagnosa yang tepat tetang pengetahuan yang di butuhkan kaum petani tersebut, belum tentu pesannya akan sampai pada ahli peneliti yang bersangkutan karena terdapat kemampatan dalam saluran komunikasi, ataupun karena tidak tersedianya saluran komunikasi dari pihak petugas penyuluhan ke arah para ahli peneliti.

Hubungan Antara Ahli Peneliti, Petugas Penyuluhan dan Petani
Untuk mengenal dan menanggapi kebutuhan petani terhadap pengetahuan tertentu akan dilayani secara sempurna apabila sistem penelitian itu langsung dapat mencapai para petani di daerah yaitu bilamana para peneliti memelihara hubungan erat, baik dengan para penyuluh, maupun langsung dengan tokoh-tokoh petani tertentu.

Mengkhususkan Budidaya Komersial Utama
Pada saat ini, dimana sudah jelas kebutuhan petani, pusat penelitian dan dinas penyuluhan yang mengkhususkan budidaya tunggal itu, yang telah “berjasa” membantu mereka meningkatkan terlalu banyak produksi komoditi tertentu, kurang mampu untuk memberi penerangan atau petunjuk mengenai budidaya alternatif.
Penyorotan seluruh usaha penelitian dan pendidikan kaum petani khusus terhadap satu atau beberapa budidaya komersial tertentu, sungguh merugikan kepentingan para petani subsistensi, yang lebih berminat kepada tanaman yang berlainan sama sekali. Mereka memerlukan bantuan untuk meningkatkan kadar gizi dan kwantitas hasil panen dari tananaman pangan untuk keluarganya sendiri, yang seringkali bukan merupakan budidaya komersial. Maka kurang sekali usaha penelitian yang diarahkan kepada kebutuhan para petani subsistensi ini di seluruh negara-negara berkembang.

Kebutuhan Petani Kecil Mengenai Pengetahuan
Para petani kecil sangat membutuhkan bantuan agar mereka dibimbing menjadi perencana dan pengelola ladang yang lebih terampil. Hasil nyata ialah bahwa banyak sekali kebutuhan petani ditangkap atau ditafsirkan secara salah ataupun sama sekali diabaikan, khususnya berkenaan dengan kepentingan para petani kecil. Kaum petani yang berladang besar-besar, yang lebih mampu untuk mendiagnosa kebutuhannya sendiri, dan dalam keadaannya dapta saja melampaui petugas penyuluhan setempat dan langsung menghubungi induk sumber pengetahuannya, lebih banyak menarik manfaat dari penemuan penelitian baru, daripada para tentangga petani kecil-kecil. Inilah yang terjadi dalam daerah-daerah “Revolusi hijau” di India dan Pakistan.

Penyebaran Dan Penerapan Pengetahuan
Atas dasar asumsi bahwa kebutuhan pengetahuan kaum tani telah diidentifikasi secara tepat (fungsi I), dan bahwa telah dipersiapkan atau dicipatakan pengetahuan yang tepat sebagai tambahan atas kebutuhan itu (fungsi II), maka kemudian harus diusahakan menutup lingkarannya dengan mengantarkan pengetahuan itu kepada kaum petani dan membantu mereka untuk menghayati dan menerapkan pengetahuan itu (fungsi III).



Beberapa Kelemahan Dinas Penyuluhan
Peningkatan produksi pertanian dipandang sebagai tujuan utama dan sebagai kriteria untuk menilai keberhasilan pembangunan pertanian (E.B. Rice menyatakan bahwa pandangan picik ini khususnya dianut oleh “Aliran Penyuluhan” – Extensionist school – di Amerika latin, diilham oleh kalangan ahli AS).
Ini jelas merupakan pandangan picik tentang proses pembangunan pertanian, baik berkenaan dengan program penyuluhan pertanian maupun program pendidikan petani. Namun jujurnya perlu kami mengemukakan tiga hal : (1) Pandangan picik itu bukanlah umum dianut oleh seluruh tokoh yang bergiatdalam bidang penyuluhan dan pendidikan; (2) Pandangan picik ini seringkali diperkokoh karena terkucilnya kalangan petugas punyuluhan dari berbagai usaha pelengkap di bidang pembangunan pertanian; dan (3) golongan ahli pertanian lainnya juga ada yang menaruh pandangan yang picik serta kurang realistis dalam gagasan masing-masing mengenai usaha pengembangan pertanian.

Tujuan Prioritas dan Sasaran
Yang terlebih tegas menginsafi tujuan, prioritas serta tugas sehari-hari, ialah para prtugas penyuluhan yang bekerja dalam rangka sesuatu proyek terpadu yang rapi pengelolaannya, seperti misalnya CADU, Lilongwe, dan dulb proyek Gezira.
Maka kegiatan penyuluhan yang diarahkan khusus kepada kaum tani yang  lebih berada dan lebih tinggi tingkat kecerdasannya pada hakekatnya  merupakan strategi yang  boros dan menyesatkan. Karena para petani yang sudah cerdas tidak memerlukan bantuan atau dorangan dari petugas penyuluhan, untuk menerapkan suatu teknologi baru yang jelas menguntungkan (misalnya: penggunaan bibit unggul), disertai lagi dengan segala imbalan dan fasilitas perangsang pula. Agaknya lebih tepat bila tenaga petugas penyuluhan itu mengarahkan kegiatannya kepada kaum tani yang kurang cerdas, yang lebih banyak membutuhkan bantuannya.

Pemanfaatan Sumberdaya Secara Efisien
Salah satu sumber kemerosotan effisiensi, ialah kenyataan bahwa para petugas penyuluhan itu dibebankan tugas sampingan di luar bidang penyuluhan. Contohnya Pekerjaan kantor, memelihara catatan, menagih uang tabungan, mengumpulkan data sensus,dsb. Yang mengalihkan mereka dari tugas pokoknya, yaitu membantu kaum petani.
Faktor lain yang menghambat petugas penyuluhan dalam melakukan tugasnya adalah kurangnya tersedia kendaraan. Karena apabila penyuluh berkunjung ke ladang para petani yang berjauhan jaraknya, seringkali menghabiskan lebih dari separuh waktunya untuk bergerak dari ladang ke ladang yang lainnya. Hal tersebut merupakan pemborosan tenaga profesional yang bernilai tinggi.

PEMBINAAN DAN PEREMAJAAN KARYAWAN
              Untuk menjamin efektivitas kerja setiap sistem pendidikan pertanian memerlukan karyawan berpendidikan spesialis aneka ragam, dengan pendidikan persiapan sempurna pada tingkat pendidikan tinggi, yang dilengkapi lagi dengan pendidikan tambahan dalam dinas secara bersinambung, agar mampu mengikuti segala perkembangan baru dan dapat maju dalam profesi masing-masing. Diantara keseluruhan tenaga kerja itu yang paling kurang diindahkan ialah golongan penyuluh lapangan setempat dan dibutuhkan beberapa hal yang dapat menunjang hal tersebut diantaranya Pendidikan pertanian yang formal, Pendidikan Prakarya dan Latihan Dinas.
             
              Dari uraian tersebut diatas dapat diambil kesimpulan utama kami tarik dari tinjauan umum mengenai struktur pembinaan karyawan dalam rangka sistem pengetahuan pertanian sebagai berikut
1.      Didirikannya universtas di daerah pedesaan yang akan menyelengarakan program-program penelitian dan poendidikan yang mencakup aneka ragam kebutuhan di daerah pedesaan, dan bukan hanya dalam bidang pertaniaan saja. Dengan adanya universitas daerah pedesaan, maka terbuka kesempatan yang lebih luas bagi para muda-mudi untuk membina seluruh potensi kemampuan sendiri untuk berbagai peranan pemimpin dalam usaha pembangunan daerah pedesaan.
2.      Perlu diadakan usaha sungguh-sungguh untuk memperkokoh usaha latihan kedinasan dengan tujuan pembinaan karir bagi seluruh karyawan yang terlibat dalam kegiatan mendidik, membimbing para petani beserta keluarganya.

PENGELOLAAN SISTEM PENGETAHUAN PERTANIAN
              Pengelolaan sistem pengetahuan pertanian merupakan intisari dari semua fungsi yang sebelumnya telah diuaraikan, dan merupakan tempat di mana terlebih dulu harus diadakan tindakan koreksi, jika kita menghendaki agar segala usaha untuk menyempurnakan pendidikan dan penelitihan dalam bidang pertanian dapat berjalan dengan tepat dan efektif.
              Tindakan yang harus diambil dengan kaitan pengelolaan sistem pengetahuan pertanian ini adalah dihapuskannyan sistem pendekatan berpecah-belah yang berkenaan dengan usaha memperbaiki dan memperkokoh komponen pendidikam dan penelitihan dalam bidang pertaniaan, dan perlu digunakan pendekatan yang bersifat lebih luas baik oleh masing-masing pemerintah nasional maupun oleh seluruh badan ekstern.
1.      Anjuran Untuk Peninjauan Keseluruhan Sistem
Akan menghasilkan suatu peraturan yang mantap untuk menyediakan musyawarah bersinambungan antara segala pihak yang masing-masing bertanggung jawab atas suatu komponen dalam sistem ini dan untuk mengadakan arus informasi secara teratur, beserta jasa-jasa monotoring dan evaluasi, yang masing-masing merupakan syarat mutlak untuk menjamin peningkatan efisiensi dan produktivitas keseluruhan sistem pengetahuan pertanian tersebut.
2.      Bantuan dari Pihak Lembaga Internasional dan Badan Intenasional
Lembaga-lembaga luar negeri dapat memberi bimbingan menuju suatu pendekatan terpadu danb sistematis untuk memperkokoh sistem-sistem pengetahuan  pertaniaan.
               
BAB 9.  KUPASAN MENGENAI PROGRAM PENDIDIKAN KETRAMPILAN DI LUAR BIDANG PERTANIAN

PERBEDAAN ANTARA KOTA DAN DESA
1.      Ketrampilan yang diperlukan oleh penduduk pedesaan berguna untuk menjamin kelangsungan hidup serta untuk mencari nafkah jauh berbeda daripada yang diubutuhkan penduduk perkotaan, meskipun ketrampilan itu serupah namanya
2.      Struktur kesempatan kerja di daerah pedesaan dan pola perkembangannya selama berlangsungnya usaha pembangunan jauh berbeda dengan di daerah perkotaan. Maka akan memyesatkan bila kita menggunakan pola kesempatan kerja di kota sebagai pedoman untuk meramalkan pola kebutuhan dan ketrampilan yang akan terdapat di suatu pedesaan tertentu. Salah satu yang dapat dijadikan pegangan adalah memeriksa keadaan pasaran pertukangan di suatu desa tertentu setra menjajagi perkembangan di masa depan, sebelum mulai menyususn suatu program pendidikan baru, serta tetap mengamati perkembangan pasar, agar dapat disesuaikan dengan program pendidikan setiap perkembangan dan perubahan
3.      Masyarakat pedesaan, berlainan dengan masyarakat umumnya, mempunyai sejumlah besar perusaahan kecil-kecil, di mana tugas teknik dan pengelolaan umumnya dilakukan oleh si pengusaha sendiri.
4.      Di daerah pedesaan angka partispasi kursus dan angka prosentase tamatan kursus jauh lebih rendah daripada di daerah perkotaan.
5.      Masyarakat perkotaan yang modern memiliki kemampuan yang lebih besar untuk menyerap aneka ragam ketrampilan daripada masyarakat pedesaan uang kurang maju.
Sistem pendidikan kejuruan non-formal bukan hanya terbatas pada kepandaian dan hasil karya tradisional saja, sistem ini terbukti telah memberi tanggapan posistif pada barang-barang dan teknologi canggih, yang memerlukan ketrampilan canggih pula.
              Program pendidikan beraneka ragam, jelas akan nyata bahwa perbedaan yang besar yang terdapat dalam keadaan di daerah perkotaan dan pedesaan sangat banyak mempengaruhi berhasil-tidaknya suatu program, dan siapa yang dengan seksama mengindahkan adanya perbedaan tersebut, pasti besat harapannya akan berhasil.

Empat Kelompok Program Pendidikan   
1.      Program untuk memberi ketrampilan tambahan untuk para petani guna memperbaiki perumahan dan ladangnya dan untuk mencari pendapatan tambahan melalui pekerjaan sampingan.
2.      Program untuk membina ketrampilan pemuda untuk pekerjaan di luar pertanian.
3.      Program untuk Menatar dan Memperluas Ketrampilan Kaum Tukang, pengrajin dan pengusaha yang bekerja/berusaha.
4.      Program pendidikan dan Penunjang Terpadu untuk membina Industri Kecil dan Perusahan desa di luar pertanian.


BAB 10. MENYEMPURNAKAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN NON-FORMAL

Teknologi pendidikan yang dimaksud bukan sekedar “hadware” berupa kapur, papan tulis, potlot dan kertas, namun mencakup seluruh sasaran dan daya upaya,  seluruh metode untuk  mengatur dan mempergunakan segala benda tersebut sebagai Komponen dari suatu system mengajar, termasuk soal teknik untuk menciptakan “software” atau bahan pelajaran sebagai pelengkap hardware.
Gambaran umum :
1.      Pendidikan non formal secara keseluruhan mempunyai kemampuan luar biasa jauh lebih luas daripada pendidikan formal untuk menerapkan aneka ragam teknologi pendidikan.
2.      Kesan Keseluruhan program pendidikan non formal cenderung tetap merangkul daya upaya dan metode pendidikan yang tradisional, mahal dan kurang efisien. Sehingga masih banyak kesempatan untuk meningkatan efektifitas biaya dengan menyempurnakan teknologinya.
3.      Suatu hambatan utama terhadap usaha memperluas pendidikan non formal adalah karena terlalu banyak mengandalkan  pendidikan tatap muka antara pengajar dan siswa. Untuk menyingkirkan hambatan tersebut yaitu penggunaan barang cetakan, radio, film dan belajar kepada setiap orang.
4.      Seharusnya dalam usaha menyempurnakan teknologi pendidikan untuk pedesaan yang termasuk miskin yaitu mencari cara yang tepat untuk mempergunakan teknologi tersedia yang murah dan efektif.

Dalam bab 10 ini diberikan beberapa contoh penggunaan teknologi pendidikan biaya murah dengan cara imaginative :
1.      Penggunaan media massa untuk kampanye tertentu: dicontohkan di Ghana (1953-1956) kampanye pohon coklat, melalui pendidikan media massa menggunakan radio, poster berwarna warni dan film strip petani coklat diajak menanggulangi masalah penyakit coklat dengan penyemprotan pestisida, bukan dengan cara ditebang. contoh lain di puebla meksiko, dibuat film menarik yang memperagakan cara-cara menanam jagung yang lebih sempurna, serta cara untuk menarik manfaat dari dana kredit, film tersebut cukup menarik dan efektif.
2.      Menggunakan tenaga pedagang dan petani sebagai penyuluh: dinegara tertentu kalangan produsen dan penyalur sarana produksi dan alat pertanian dijadikan sumber pengetahuan yang berfaedah bagi kaum petani. Penyalur (marketing) sarana pertanian biasanya merangkap menjadi penyuluh efektif karena  langsung bersinggungan dengan kebutuhan petani. namun biasanya penyuluh yang efektif adalah tetangga petani yang merupakan tokoh masyarakat yang berpendidikan dan berprofesi sebagai petani sehingga dapat di contoh oleh petani lainnya.
3.      Pebinaan keterampilan dipelosok daerah terpencil : contohnya yaitu di SENA kolombia, dengan mengantarkan tenaga pengajar ke desa sehingga lebih dekat dengan calon siswa. Contoh lain paket pendidikan aneka media di Filipina, terdapat organisasi Pusat Komunikasi Sosial (SCC) yang khusus mempersiapkan paket pendidikan aneka media untuk badan- badan resmi dan swasta dengan system kontrak.

Banyak diantara pemerintah pada negara berkembang menyalurkan hardware berupa alat-alat pendidikan, lalu diperintahkan tenaga pendidik untuk memanfaatkan sarana tersebut, namun tidak dipikirkan terlebih dahulu maksud dan tujuan penggunaanya, dan umumnya tidak tersedia software (bahan pendidikan) yang mengiringi hadware tersebut. Saran-saran yang diberikan oleh penulis bagi perencanaan teknologi baru pendidikan non formal antara lain yaitu.
1.      Pilihan dan kombinasi teknologi yang tepat
Setiap corak pendidikan non formal memerlukan corak atau kombinasi teknologi yang tertentu, dsesuaikan dengan kelompok penduduk yang menjadi sasaran.
2.      Perincian langkah-langkah persiapan yang penting
Perlu dibuat daftar rinci mengenai seluruh persiapan yang perlu sebelum mulai diterapkan inovasi teknologi baru. Meliputi uji bahan (software) yang akan digunakan, mempersiapkan kelompok penduduk yang akan menjadi sasaran, menjamin tersedianya sarana, disediakanya sarana komunikasi, membina pengertian khalayak umum lainya, dan perencanaan lanjutan.
3.      Kerjasama antar lembaga
Pada penyelenggaraan pendidikan harus mengintegrasikan seluruh organisasi. Contoh di Indonesia Surabaya jawa timur departemen pertanian melakukan sosialisasi bekerjasama dengan pusat penerangan menggunakan program radio. Isi penyuluhan ternyata hanya berkaitan dengan pertanian saja, padahal bisa lebih berfaedah jika diikuti dengan penyuluhan masalah kesehatan, gizi keluarga berencana, perumahan, pendidikan bagi remaja dan lain-lain.

Upaya penyempurnaan yang praktis:
1.      Inventarisasi awal
Garis besarnya yaitu meliputi. (1) Corak teknologi pendidikan yang diterapkan dan pembaharuan penting yang dikehendaki. (2) tenaga ahli, fasilitas dan keahlian khas yang tersedia pada masing-masing lembaga pemerintah, perguruan tinggi. (3) hambatan utama yang menghalangi pemanfaatan sumberdaya yang tersedia secara sempurna. (4) langkah yang diambil untuk memperlancar koordinasi, (5) penggunaan bersama sarana yang tersedia untuk pendidikan non formal.
2.      Membina kebijaksanaan wajar
Yaitu memperhatikan penyusunan software (bahan pelajaran) yang bermutu, sehingga lebih banyak mengandalkan belajar sendiri daripada metode tatap muka, juga agar lebih banyak disediakan sarana pelajaran, diadakan kerjasama antar organisasi, peningkatan mutu lingkungan pengajaran didaerah pedesaan.
3.      Menggairahkan usaha belajar sendiri
Upaya yang tepat untuk mencapai kesempurnaan ialah dengan mengatur penggunaan sumberdaya yang tersedia untuk menciptakan lebih banyak program dan bahan pendidikan agar dapat dimanfaatkan orang untuk dapat memperoleh lebih banyak ilmu dengan gaya belajar sendiri.
4.      System penyajian pendidikan untuk penggunaan bersama
Diharapkan usaha pendidikan dilakukan bersama-sama, yaitu dengan menggunakan fasilitas dan tenaga pengajar untuk berbagai program yang melayani penduduk didaerah yang sama.  Penggunaan fasilitas untuk digunakan demi beragam tujuan pendidikan merupakan teladan yang layak dicontoh.

Tinjauan mengenai teknologi pendidikan memperlihatkan segi yang cerah dan segi yang suram. Segi yang suram ialah bahwa program-program pendidikan non formal pada umumnya menunjukkan kecenderungan untuk berpegang kepada cara-cara lama dengan pengajaran bertatap muka yang mahal biayanya dan mengurangi efektifitas. Kurangnya bahan dan alat pelajaran untuk belajar sendiri dan lebih menonjolkan hardware daripada software mebatasi daya jangkau dari program pendidikan itu.
Segi yang cerah yaitu tersingkapnya sejumlah besar peluang untuk memperkokoh pendidikan non forma dengan mengadakan kombinasi aneka media dan pemanfaatan secara lebih besar dar tenaga ahli yang kreatif untuk menciptakan bahan-bahan program yang lebih sempurna dan efektif.


BAB 11. SEGI EKONOMI PENDIDIKAN NON-FORMAL

Dalam meninjau biaya pendidikan non formal perlu dibedakan antara biaya keuangan dengan biaya ekonomi sejati (biaya pengorbanan kesempatan), karena sebagian besar program non formal banyak menggunakan fasilitas pinjaman, tenaga sukarelawan, sumbangan jasa yang sesungguhnya jauh melebihi biaya keuangan yang tercatat resmi. Dalam mengadakan penilaian tentang manfaat yang diperoleh dari program tersebut dapat dinilai manfaat secara langsung (misal yang tercermin pada peningkatan produksi dan pndapatan), manfaat ekonomi tak langsung dan manfaat non ekonomi (kepandaian dll)

Kesulitan dalam mengumpulkan dan menganalisa data
1.      Kelangkaan persediaan data:
Sumber tunjangan bagi kasus kasus contoh
2.      Sumber sumber pembiayaan bagi program pendidikan non formal pada lokasi penelitian
3.      Pemerintah nasional
4.      Pemerintah regional
5.      Organisasi umum/swast
6.      Perwakilan bantuan ekternal/luar negeri

Peranan sumber biaya luar negeri
Kenyataan yang sangat menonjol ialah peranan pihak luar negeri hampir ada pada setiap kasus terutama berkenaan dengan modal dan biaya pengembangan awal dan merupakan sumber biaya yang terbesar. Dapat diambil kesimpuan bahwa pemerintah dari Negara-negara berkembang kurang bergairah untuk mengawali atau memperluas program pendidikan non formal atas prakarsa sendiri, mungkin dengan dana dari luar lebih dihargai dikehendaki oleh penduduknya. Perkembangan selanjutnya baru akhirnya ada tanggapan dari pihak swasta karena dianggap sebagai peluang baru.

Masalah yang timbul karena batuan luar negeri:
1.      Hanya mengindahkan kepentingan dan spesialisasi Negara sendiri, dan membuat perpecah belahaan usaha pendidikan didaerah pedesaan.
2.      Ingin lebih banyak memanfaatkan sumberdaya yang agak terbatas, sehingga memusatkan perhatianya kepada proyek proyek perintis yang terbatas skala dan jangka masanya, dengan harapan proyek perintis tersebut segera akan berhasil dan diperluas mengunakan dana dan daya dalam negeri.
3.      Ketergantungan Negara berkembang yang berlebihan terhadap bantuan luar negeri.

Sumberdaya potensial didalam negeri yang dapat digunakan
1.      Pendapatan rutin pemerintah: contoh di Nigeria,
2.      Pengalihan dana dari anggaran pendidikan formal
3.      Pungutan istimewa oleh pemerintah: contoh di chili, brazil, venezuela
4.      Sumbanga pemerintah daerah atau masyarakat: contoh di Kenya
5.      Fasilitas pinjaman, contoh di nigeria dan sena
6.      Pengaihangunaan sumberdaya komunikasi, melalui media massa dan radio. contoh di india dan Indonesia
7.      Tenaga sukarelawan, contoh di korea selatan, kolombia,Tanzania
8.      Swasembada, para peserta pendidikan non formal membantu membangun fasilitas, menyediakan konsumsi sendiri, dan jasa-jasa lain secara mandiri contoh srilangka, Senegal.
9.      Menjual barang dan jasa, yaitu melalui usaha komersial dari usaha percetakan yang dimiliki, contoh Filipina
10.  Uang iuran peserta.

Karakteristik biaya pendidikan non formal:
1.      Kebanyakan pendidikan non-formal mempunyai komponen biaya modal yang relative rendah (lebih rendah dari kegiatan pendidikan formal), nmaun komponen biaya operasional yang relative tinggi.
2.      Biaya terbesar yaitu biaya personil, sehingga kurang sekali tersisa untuk pengadaan bahan dan sarana pendidikan

JAWABAN SEMENTARA ATAS PERTANYAAN TERKAIT SEGI EKONOMI PENDIDIKAN NON FORMAL
1.      Apakah secara ekonomis mungkin dilaksanakan perluasan pendidikan non formal secara besar-besaran di Negara-negara berkembang?
Jawab: iya, asal terdapat keadaan politik yag menguntungkan. Setiap Negara berkembang akan dapat menggali sumberdaya yang diperlukan, termasuk banyak sumberdaya yang telah dimiliki nya, yang non konvensional, yang masih terpendam, atau yang masih belum dimanfaatkan, untuk menunjang anekaragam kesempatan pendidikan formal dan non formal

2.      Apakah keunggulan biaya potensial pendikan non formal
Jawab: keunggulanya yaitu fleksibilitasnya yang hakiki serta ketidak konvensionalanya pendidikan non formal keleluasanya untuk melakukan improvisasi dan menyesuaikan diri dengan aneka ragam keadaan dan kesempatan, memberikan suatu keunggulan biaya yang potensial terhadap pendidikan formal.

BAB 12.  PERENCANAAN, PENYELENGGARAAN, PENGELOLAAN, DAN KEPEGAWAIAN

Diantara segala macam masalah terkait program pendidikan non formal Yang paling rumit dan paling sulit ditanggulangi adalah masalah yang menyangkut perencanaan dan pengelolaan dari program. Anjuran penulis dalam merencanakan program-program pendidikan non formal dalam lingkungan daerah. Langkah-langkahnya adaah sebagai berikut:
1.      Mengadakan diagnose mengenai keadaan umum, potensi dan tahap pengembangan di daerah bersangkutan
2.      Mengadakan diagnose ciri-ciri khas serta kebutuhan yang realistis dan minat dikalangan kelompok calonsiswa/peserta potensial
3.      Membuat perincian tegas mengenai tujuan pengajaran, termasuk urutan prioritas serta jadwal waktu yang tepat
4.      Inventarisasi kegiatan lain dalam bidang pendidikan yang masih pada tahap rencana atau sedang dilaksanakan didaerah sama sehingga bisa dikaitkan kepada program
5.      Inventarisasi factor-faktor dan jasa-jasa luar pendidikan yang relevan agar dapat memberikan sumbangan kepada usaha pendidikan
6.      Inventarisasi factor tetap dalam bidang sosial, ekonomi, kelembagaan, adminsitratif atau politik yang dapat menunjang.
7.      Identifikasi ke bijakan dan urutan  prioritas nasional yang dapat mempengaruhi program




BAB 13. IHTISAR DAN ULASAN PENUTUP

Pandangan terhadap pendidikan
Berlawanan dengan pandangan umum yang menyamakan pendidikan dengan sekolah, penulis memandang bahwa pendidikan bukan suatu kegiatan struktur atau kelembagaan, namun pendidikan adalah proses seumur hidup.
Adapun pendidikan non formal dalam studi penulis yaitu suatu kegiatan teratur dengan tujuan member pendidikan yang diselenggarakan diluar kerangka system pendidikan formal yang terlalu kaku. Pendidikan non formal mempunyai kebebbasan untuk melayani penduduk dari setiap kelompok usia dan dengan sembarang dasar pendidikan segala jenis ilmu yang hendak dituntut. Dapat diadakan dengan aneka betuk, mnggunakan beraga tenaga pengajar dan metode pngajaran, dapat dilakukan disembarang tempat, dan sepanjang masa.
Kelemahan pendidikan non formal dalam persainganya dengan pedidikan formal yaitu, kalah ber Martabat, kurang membuka jalan kepada jabatanpenting, kurang tersedianya anggaran dari Negara, selain itu terhambat masalah politik, birokrasi, dan lain-lain.

Tiga kesimpulan pokok
1.      Pendidikan non formal dari jenis yang tepat, ditempat tepat, serta dikaitkan dengan kegiatan penunjang yang wajar merupakan sarana mutlak untuk pembangunan masyarakat desa.
2.      Di Negara yang paling miskin, asal terdapat iklim politik yang sehat serta Tekad para pemimpin dan rakyat untuk membina masa depan yang cerah seharusnya mampu mengerahkan sumberdaya alam dan manusia untuk memperluas usaha pendidikan non formal di daerah pedesaan.
3.      Negara-negara berkembang akan dapat maju dalam pendidikan non formal jika diberikan bantuan yang kritis dari luar negeri.

Pointer
1.      Pendidikan non formal merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan formal dan pendidikan informal. Pendidikan non formal yang tepat akan bisa dijadikan instrument mendukung kegiatan pembangunan di pedesaan. Untuk itu dukungan political dan goodwill dari para stakeholder sangat diperlukan. Dukungan dari pihak luar seperti donor terkadang juga diperlukan dalam bentuk bantuan yang mendidik dan kritis. Meski demikian perlu disadari bahwa pendidikan non formal adalah bukan resep mujarab untuk segala jenis permasalahan di desa.
2.      Untuk mendukung efektifitas pendidikan non formal, beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah: (a) perlu ada integrasi yang lebih nyata dengan komponen lain misalnya penyaluran kredit, bantuan modal, pemasaran dll, (b) desentralisasi dalam pengambilan keputusan karena pendidikan non formal seringkali bersifat local specific, (c) akses untuk kaum miskin dalam pendidikan non formal dan kegiatan penunjang lainnya.
3.       Persoalan di sector penyuluhan pertanian: (a) sektoral, (b) kurang perencanaan (c) cakupan luas (d) orientasi komoditi unggul dan skala besar, (e) kurang diagnose terhadap kebutuhan masyarakat, (f) insentif dan pengembangan kapasitas penyuluh terbatas (g) sarana kerja kurang memadai. Solusi yang ditawarkan adalah : (a) integrasi penyuluhan dengan jasa penunjang lain sesuai prioritas pembangunan daerah, (b) penguatan kelembagaan penyuluh pertanian termasuk incentive system, (c) pengembangan assessment kebutuhan petani, (d) pengembangan teknologi pendidikan dengan multi media.
4.       Penguatan riset pertanian diarahkan pada; (a) kajian penelitian ilmu social untuk menunjang pembangunan desa, (b) adopsi penelitian nasional dan internasional, (c) menyelaraskan dan kompilasi hasil penelitian biologi ilmiah menjadi bahan penyuluhan yang praktis, (d) mengaitkan kegiatan penyuluhan dengan penelitian di lapangan.
5.       Persoalan pendidikan di sekolah pertanian: (a) mutu rendah, (b) kurang banyak latihan praktek, (c) kurangnya kegiatan penelitian, (d) kurangnya materi pendukung seperti sosiologi pedesaan, (e) link and match dengan dunia kerja lemah, (f) motivasi para pelajar untuk kembali ke desa sangat rendah. Untuk mengatas hal ni reorientasi kurikulum yang berbasis kebutuhan masyarakat dan peningkatan kualitas tenaga pengajar merupakan salah satu hal yang mutlak diperlukan.
6.      Untuk mendorong pendidikan non formal di luar sector pertanian, beberapa poin penting yang perlu dilakukan adalah: (a) asessement terhadap jenis pendidikan yang diperlukan termasuk peluang kerjanya, (b) pengembangan sistem pendidikan yang sesuai kondisi local seperti magang, kernet dll (c) pengembangan teknologi dan media pendidikan yang murah dan efektif seperti peer to peer learning, siaran radio, selebaran dll.
7.       Bantuan asing untuk mendukung pendidikan non formal hendaknya harus mengacu opada kebutuhan riil di lapangan dan terintegrasi dengan scenario pembangunan di daerah. Ego sektoral dan ego lembaga harus dihindarkan, demikian pula penyaluran bantuan dilakukan dengan cara mendidik agar tidak menimbulkan ketergantungan dari masyarakat.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar