RESUME
BUKU
“MEMERANGI
KEMISKINAN DI PEDESAAN
MELALUI
PENDIDIKAN NON-FORMAL”
Sebagai
Tugas dalam Mata Kuliah Kemiskinan Desa Kota
Dosen
Pengajar: Prof. Darsono Wisadirana
DISUSUN
OLEH:
1.
DICKY
SUHARTONO, SE NIM. 126120400111006
2.
ELIAS TANDE,
SE NIM. 126120400111010
3.
AISYAH
AMINY, S.Si NIM.
126120400111025
4.
NUR ROIS
AHMAD, S.Pi NIM.
126120400111026
PROGRAM
MAGISTER SOSIOLOGI KAJIAN KEMISKINAN
PROGRAM
PASCASARJANA
FAKULTAS
ILMU SOSIAL DAN POLITIK
UNIVERSITAS
BRAWIJAYA
MALANG
2013
BAB 1. LATAR BELAKANG
STUDI
Akibat adanya usaha modernisasi, maka
daerah perkotaan semakin berkembang berbeda jauh dengan pedesaan. Oleh karena
itu, pada akhir dasawarsa 60-an para ahli sepakat untuk menekankan pembangunan
di daerah pedesaan. Berbagai ketimpangan terjadi di berbagai sektor termasuk
pendidikan. Ada 3 alasan:
1. Perkotaan
menerima jatah sumber daya lebih banyak
2. Ketidaksesuaian
antara apa yg dipelajari di sekolah dengan apa yang perlu dipelajari
3. Kebijaksanaan
di bidang pendidikan masih memandang bahwa pendidikan adalah pendidikan formal
Pendidikan tidak lagi boleh dipandang sebagai
proses yang terikat pada waktu dan ruang tertentu yang terbatas pada sekolah.
Pendidikan adalah proses belajar entah dimana dan kapan, harus dimulai dg suatu
pandangan fungsional yaitu diawali dari kebutuhan para siswa/ masyarakat yang
kemudian dapat ditentukan sarana kebutuhan manakah yang paling tepat untuk
memenuhi kebutuhan mereka itu.
BAB
2. TINJAUAN MENYELURUH MENGENAI
PENDIDIKAN DI PEDESAAN
Pada bab ini dibahas mengenai gambaran
kasar tentang pendidikan di pedesaan dalam keseluruhannya termasuk keadaan masa
kini serta apa yang dibutuhkan dalam jangka pendek. Ada 3 faktor kritis:
·
Penduduk
Penduduk daerah pedesaan meliputi mayoritas penduduk
terbesar dari seluruh negara berkembang, dan merupakan konsumen potensial bagi
pendidikan nonformal
·
Tanah
Kecenderungan kependudukan yang berat membawa
implikasi yang khas yaitu berkurangnya produksi pertanian dan penggunaan tanah.
Produksi pertanian di negara berkembang perlu ditingkatkan
·
Kesempatan Kerja
Tekanan penduduk yang terhadap persediaan lahan
garapan yang terbatas persediaannya meningkatkan kebutuhan akan kesempatan
kerja di luar ladang untuk menyerap kelebihan angkatan kerja pedesaan yg
melimpah ruah
Ada beberapa sifat dasar pembangunan
pedesaan serta peranan pendidikan:
•
Pembangunan perkotaan selalu menempati
urutan lebih dahulu daripada pembangunan pedesaan
•
Pembangunan pedesaan merupakan
perombakan yang mendasar dari segala struktur, lembaga, hubungan, dan proses
sosial ekonomi di pedesaan
•
Pembangunan pedesaan merupakan resultan
dari berbagai kekuatan yg berinteraksi. Salah satu kekuatan itu adalah
pendidikan dalam aneka bentuk dan menyangkut sejumlah besar penduduk.
•
Keanekaragaman keadaan dan potensi
daerah pedesaan menjadikan tidak adanya suatu rumusan yang sama untuk mencapai
pembangunan pedesaan dalam segala situasi dan tidak pula terdapat rumusan
mengenai corak pendidikan yang cocok untuk menggairahkan pembangunan pedesaan
itu.
•
Dalam bidang ini khususnya diperlukan
program pendidikan yang berorientasi karya, harus pandai menanggapi kebutuhan
dan ketrampilan yang baru.
Pendidikan yang diperlukan dalam rangka
pembangunan di pedesaan:
•
Pendidikan umum dan dasar: melek huruf,
melek angka, dsb yang ditangani oleh sekolah dasar & sekolah lanjutan umum
•
Pendidikan kesejahteraan keluarga: ilmu
kesehatan, ilmu gizi, pengasuhan anak
•
Pendidikan kemasyarakatan: bertujuan
mengokohkan dan menyempurnakan lembaga-lembaga & proses-proses daerah dan
nasional
•
Pendidikan kejuruan: untuk membina
kepandaian dan ketrampilan tertentu yang berguna untuk mencari nafkah
Kelemahan pendidikan di pedesaan:
•
Daerah pedesaan kurang sekali memiliki
sumber daya pendidikan (contoh: bacaan apa yg tersedia di pedesaan yg terpencil?)
•
Langkanya program pendidikan yang
berorganisasi, baik yang formal maupun informal
•
Di pedesaan SD yang dimaksudkan dibangun
sebagai sarana untuk pemerataan kesempatan malah menjadi sumber diskriminasi
karena mayoritas hanya sebagian anak di pedesaan yang bisa masuk ke sekolah
PENDIDIKAN
NONFORMAL
Di pedesaan, angka
putus sekolah tinggi sehingga diperlukan program “setaraf sekolah” yang
dimaksudkan untuk menyediakan pendidikan bagi kaum remaja yang putus sekolah. Pendidikan
nonformal merupakan salah satu cara untuk membuka kesempatan untuk masuk ke
dalam sistem pendidikan formal lanjutan. Pendidikan kejuruan terutama pertanian
memegang peranan yg menonjol.
Terdapat
beberapa ketimpangan dalam pembagian sumber daya pendidikan (hasil penelitian ICED):
·
Anggaran untuk pendidikan kalah saing
dari program lain dalam belanja negara
·
Anggaran pendidikan formal >
pendidikan nonformal baik di kota dan di desa
·
Daerah perkotaan memiliki porsi lebih
besar baik dalam pendidikan formal dan nonformal
·
Pendidikan nonformal di pedesaan
sebagian besar ditujukan kepada penduduk golongan dewasa (petani)
·
Pendidikan nonformal bagi kaum remaja
hanya untuk anak yang bersekolah, jarang terdapat program yang untuk anak luar
sekolah padahal golongan ini yang mayoritas
·
Sumber daya potensial untuk pendidikan
nonformal di daerah pedesaan seringkali tidak dimanfaatkan
·
Bantuan luar negeri, khususnya badan PBB
yang menangani pendidikan juga tidak menaruh minat pada program pendidikan nonformal
Empat corak pendekatan menuju penyuluhan
dan pelatihan di pedesaan:
1. Pendekatan
Penyuluhan
Tidak hanya cara kerja penyuluhan tetapi mencakup
keyakinan bahwa dapat membantu masyarakat yang statis berubah menjadi dinamis sehingga
meningkatkan kesejahteraan keluarga.
2. Pendekatan
Pelatihan/ Pendidikan
Lebih menitikberatkan pengajaran yang sistematis
serta mendalam untuk meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan dasar tertentu.
Menggabungkan pengajaran teori dan praktek.
3. Pendekatan
Swadaya Kooperatif
Menitikberatkan pada pembinaan lembaga-lembaga lokal
untuk swadaya yang kooperatif. Faham yang dianut bahwa penggerak utama
pembangunan pedesaan harus timbul dari dalam.
4. Pendekatan
Pembangunan Terpadu
Suatu pandangan luas mengenai proses pembangunan dan
cara mengkoordinasi dlm rangka satu “sistem pengelolaan tunggal”.
BAB 3. PROGRAM
PENYULUHAN PERTANIAN
Pada bab ini dibahas mengenai pendekatan
pertama dalam penyuluhan dan pelatihan di pedesaan yaitu pendekatan penyuluhan.
Di hamper tiap negara berkembang terdapat suatu organisasi jawatan penyuluhan
pertanian. Ada juga negara yang menyelenggarakan lebih dari satu organisasi
dalam bidang ini. Jasa penyuluhan yang disediakan berlainan pula. Sebagian
besar isi bab ini menyorotkan dua corak yang sangat berbeda dalam bidang
penyuluhan pertanian: satu corak yang disebut model konvensional, yang telah
dikembangkan menjadi Dinas Pembangunan Pedesaan (ORD = Office of Rural Development) di
Korea Selatan, dan suatu corak yang lebih berspesialisasi, yang dilukiskan oleh
Himpunan Bantuan dan Kerja sama Teknik (SATEC = Societe d’ Aide Technique et de
Cooperation) di Senegal.
Berikut tabel mengenai perbedaan antar
model:
|
Uraian
|
Metode
Konvensional
|
Metode
Konvensional versi Mutakhir
|
|
Negara yg melaksanakan
|
Amerika latin,
sebagian besar
Asia
|
Korea Selata
(ORD)
|
|
Periode
|
Daswarsa 40-an
dan 50-an
|
70-an
|
|
Tujuan
|
Menggairahkan
dan membantu petani untuk meningkatkan produksi dengan cara kerja teknik yang
sempurna
|
Mencapai
kenaikan produk dengan cara kerja teknik yang disempurnakan, membantu keluarga
pedesaan untuk meningkatkan pendapatannya
|
|
Gol. Sasaran
|
Kaum tani, para
istri, dan anak muda (masuk dewasa)
|
idem
|
|
Organisasi & struktur
|
Bernaung dibawah
kementrian/ universitas/ institut pertanian
|
ORD (merupakan
alat pelaksana dari kementrian pertanian dan kehutanan) dengan otonomi luas
|
|
Tenaga kerja
|
Karyawan lulusan
jurusan pertanian/ teknologi produksi.
|
60.000 petugas
penyuluhan, 2/3 di lapangan 1/3 memegang jabatan di kab/ kantor cabang lokal
|
|
Bahan pendidikan
|
Teknologi
produksi, ada sambilan soal ekonomi dan logistik, perencanaan, pemanfaatan
kredit & pemasaran produksi
|
|
|
Metode-metode
|
Ada 5 tahapan
penyuluhan: memupuk kesadaran, membangkitkan minat, informasi & peragaan,
percobaan di ladang sendiri & sambutan oleh petani
|
Ada perpustakaan
keliling karena tingkat melek huruf tinggi
|
|
Biaya dan Dana
|
Dibiayai dari
pemerintah pusat sendiri
|
idem
|
Penyuluhan
sebagai Katalis dalam Kampanye Produksi
Di Afrika, penyuluhan tidak melayani
seluruh daerah dan aneka ragam budidaya dan petani. Fokus utama adalah
memperluas produksi budidaya ekspor: coklat, kacang tanah, kapas dan teh. Terdapat
“sistem manajemen” yang tugasnya sudah dibagi-bagi: penyuluh hanya menyediakan
“paket cara kerja”, untuk pemasaran harus disetor kepada lembaga yang sudah
ditentukan, sedangkan benih dan bahan input lainnya sudah disediakan. Petani
bukan hanya diberi petunjuk melainkan diperintahkan dengan sanksi hukuman. Petani
menganggap penyuluh bukan sebagai sahabat tetapi suruhan pemerintah asing yang
akan menindas rakyat.
SATEC:
Himpunan Bantuan Teknik dan Kerja sama di Senegal
•
Latar belakang: Kemerdekaan di Senegal
menjadikan subsidi Perancis untuk harga salah satu budidaya utama Sinegal
dicabut. Sebagai pilihan: menjual kacang dengan harga rendah/ mengalami
turunnya pendapatan.
•
SATEC: organisasi bantuan teknik semi
swasta dengan dana dari dana pembangunan eropa dan Perancis.
•
SATEC hanya sumber penyediaan nasehat
dan pengetahuan, untuk bahan dan alat disediakan badan lain
•
Membantu petani untuk memilih input dan
alat pertanian yang tepat dg menerapkan cara kerja yg lebih efisien.
•
Gol. Sasaran: program berat untuk petani
besar > 10 ha dengan bantuan lembu, program ringan untuk petani lainnya.
•
Bahan pendidikan: pengolahan tanah,
rapatnya penanaman, cara menyiang, penggunaan insektisida.
•
Hasil guna: dua tahun permulaan
(1964-1965 dan 1965-1966) meningkat pesat, tapi di 2 tahun berikutnya hujan tidak
turun, produksi merosot dan petani kecewa. Belum dpt dipastikan dimana letak
kesalahannya, ada evaluasi dan reorganisasi yg drastic.
ORD
dan SATEC adalah contoh dari pendekatan penyuluhan dalam rangka pembangunan
pertanian. Ada beberapa kesulitan dlm program itu:
•
Kekurangan anggaran belanja
•
Masalah pengerahan, pendidikan dan
pemanfaatan tenaga kerja
•
Kurang dukungan usaha penelitian
mengenai cara kerja yg sempurna
•
Urutan prioritas dari berbagai tujuan
•
Koordinasi usaha pendidikan dg
penyediaan input dan jasa pelengkap
BAB 4. PROGRAM
PENDIDIKAN BIDANG PERTANIAN
Pendidikan Petani Masa
Singkat: pendidikan petani (FTC) di Kenya
Program ini dimulai pada pertengahan
60-an: awalnya bekerja efektif tapi pada akhirnya mengalami serangkaian masalah
yang pelik. Tujuan program adalah petani subsistensi yg masih tradisional
diubah menjadi petani modern yg komersial. FTC: Farmer Training Center, Pendidikan
ini memerlukan sarana administrasi dan kelembagaan. Tahun 1961 sudah terdapat
13 pusat pendidikan petani dan tahun 1967 berkembang menjadi 27. Dari tahun ke
tahun kursus ini semakin singkat, yang awalnya setahun hingga akhirnya hanya
seminggu saja. Bahan pengajaran juga dikhususkan pada produksi komersial dan
peternakan hewan. Masalah terakhir yaitu kapasitas sangat kurang dimanfaatkan,
partipasi/ kehadiran petani merosot gawat, kesulitan memperoleh dana untuk
biaya rutin (petani iuran US $ 2 seminggu), banyak sekali mutasi staf pengajar,
rendahnya semangat kerja staf FTC, meningkatnya pemanfaatan fasilitas FTC oleh
pihak luar.
Pendidikan Petani
Jangka Lama:
(Pusat Pendidikan
Penduduk di Pedesaan) RTC di Senegal
Menekankan pada pendidikan kejuruan
klasik berjangka lama dengan dasar teori dan cara kerja serupa sekolah kejuruan
industri. Bukan pelengkap untuk usaha penyuluhan tapi merupakan salah satu
cabang dari rencana pendidikan rangkap tiga untuk daerah pedesaan yang hendak
membentuk suatu golongan elit (petani, kaum tukang, dan pemuka wanita). Menerapkan
azas pokok dan metode dari ILO. 4 ciri program pendidikan:
•
menyesuaikan dg pola budidaya dan
keadaan lingkungan di kampung halaman peserta,
•
disesuaikan dg suatu siklus penuh,
•
bagian terbanyak untuk kerja praktek di
ladang,
•
pelajaran di dalam kelas lebih banyak
untuk diskusi
Hasilnya
panen per ha pada ladang bekas siswa meningkat 50 – 100 %. Ada beberapa masalah
terakhir, yaitu peserta pendidikan merupakan golongan elit baru sehingga kurang
disenangi tetangganya, setelah pendidikan tidak ada tindak lanjut (penasehat
teknik & alat produksi, serta alat pertanian), kadang mereka tidak dapat
menerapkan teknologi baru yg dipelajari.
Melatih Penyuluh untuk
Revolusi Hijau:
International Rice
Research Institute(IRRI) di Filipina
Program pendidikan produksi padi dari
IRRI mencerminkan suatu strategi unik dg tujuan meningkatkan kemampuan dan daya
guna dari masing-masing jawatan penyuluhan pertanian di berbagai negara
penghasil padi. Sasarannya adalah pejabat teras dinas penyuluhan, yg diharapkan
kelak akan menyelenggarakan pendidikan semacam ini bagi pegawai bawahannya di
negeri masing-masing. Dari ujian diagnostik kepada pejabat teras itu ternyata
hanya 25% dari segala pertanyaan dapat dijawab, memberikan kesimpulan bahwa
mereka belum mampu untuk mengidentifikasi masalah yang dihadapi petani di
lapangan dan tidak sanggup menasehati cara penanggulangan yang tepat.
Ada beberapa kendala dalam pemanfaatan
temuan IRRI: diperlukan perlakuan khusus bagi petani dengan lahan yg kecil,
varietas unggul ini dikembangkan di daerah khusus di Filipina sehingga mungkin
perlakuan akan berbeda jika diterapkan di daerah lain. IRRI akhirnya
menyelenggarakan pelatihan juga agar hasil penelitian ini bisa segera
dimanfaatkan, ada 3 program:
1. Jadwal
kursus disesuaikan dg siklus lengkap penanaman padi sehingga mereka seolah-olah
menjadi petani
2. Para
siswa ditugaskan melaksanakan percobaan sendiri di sawah
3. Penekanan
pada teknik komunikasi dan pendidikan, tiap siswa harus menyusun program
pendidikan dua mingguan lalu secara nyata mendidik kelompok kursus singkat
Membawa Usaha
Pendidikan ke Daerah Petani:
Program Pembinaan
Kejuruan Rakyat Pedesaan (PPP-R) dari SENA di Colombia
Pendidikan dilakukan ke daerah-daerah
pelosok yang terpencil dengan menggunakan sarana pendidikan yg berkeliling. SENA:
Dinas Pendidikan Magang Nasional Colombia yang bertujuan: meningkatkan
ketrampilan dan memperluas kesempatan kerja bagi kaum buruh yg menganggur/
setengah menganggur. Selain itu jg untuk menekan arus urbanisasi. Kelompok
Sasaran: golongan buruh, dewasa dan remaja, pria dan wanita, dibidang
pertanian/ luarnya. Metode pengajaran lebih banyak yg bersifat praktek, dg lama
kursus 40 jam – 120 jam dg kebanyakan masa kurang dari 1 bulan. Program ini
membuktikan bahwa secara logis mungkin diadakan program pendidikan keliling
skala besar yg menjangkau daerah terpencil. Namun evaluasi dr program ini
adalah bahwa kursus yang diselenggarakan oleh SENA kurang berpengaruh besar,
kecuali bila di daerah itu ada kerjasama dg suatu badan “land-reform”.
Ketrampilan yang
Dibutuhkan di Pedesaan
- Pendidikan ketrampilan teknik untuk pemuda dan kaum dewasa usia muda untuk mempersiapkan mereka agar mendapatkan pekerjaan yg sesuai: Sekolah keliling untuk pendidikan kejuruan = Mobile Trade Training Schools(MTTS) di Thailand
- Penataran teknik untuk pengrajin dan tukang yg sudah bekerja (untuk meningkatkan mutu, keanekaragaman, produktivitas, dan pendapatan):Pusat Penataan Kejuruan (VIC) di Nigeria dan Program Penataran Kaum Tukang Pedesaan di Senegal
- Rencana pembinaan industri kecil yang lebih komprehensif, bantuan dlm mengusahakan kredit, jasa konsultasi teknik dan manajemen, dan jasa informasi dan advis lainnya (India)
BAB 5. PENDIDIKAN
KEJURUAN LUAR PERTANIAN
Adanya pendidikan ini dilatarbelakangi
oleh kebutuhan kaum tani yang pada hakekatnya tidak hanya membutuhkan keahlian
bertani saja tetapi juga kepandaian membuat dan mereparasi alat-alat dan bangunan
yang sederhana, memasang dan memelihara saluran air, membuat tanggul-tanggul
dan jalan-jalan, menjahit pakaian dan membuat barang kerajinan untuk dijual di
pasar. Ada beberapa program pendidikan ketrampilan luar pertanian yang ternyata
bercorak inspirasi dan improvisasi setempat dan bukan mencontoh model dari
negara lain. Di Thailand, disebut Sekolah Keliling untuk Pendidikan Kejuruan =
Mobile Trade Training Schools (MTTS). Di Nigeria, di enam Negara bagiannya
didirikan Pusat-pusat Penataran Kejuruan (Vocational Improvement Center = VIC).
|
Uraian
|
MTTS
|
VIC
|
|
Tujuan
|
Menyediakan
pendidikan ketrampilan serta memperbaiki kesempatan kerja
|
Meningkatkan
ketrampilan tukang dan pembantu tukang yang sudah bekerja
|
|
Gol.
Sasaran
|
Kaum
pemuda, golongan dewasa usia muda yang pernah mendapat pendidikan formal ≥ 1
th
|
Usia
20 – 30 tahun, yang pernah menempuh pendidikan dasar di sekolah formal atau
belum sama sekali
|
|
Organisasi
& Fasilitas
|
Kementrian
pendidikan bagian pendidikan, sekolah bersifat “keliling” dengan masa 3
tahunan
|
Tidak
memiliki fasilitas fisik dan tenaga pengajar sendiri, silabus disesuaikan dengan
ujan pertukangan pemerintah
|
|
Tenaga
Pengajar
|
7
– 9 orang guru pria dan wanita
|
Tenaga
pengajar ditarik dari industri swasta, bengkel pemerintah, dan guru
|
|
Bahan
Pelajaran
|
Ada
6 – 8 jurusan kejuruan yang dipilih, kursus yang diberikan berdasarkan
angka-angka pendaftaran. 300 jam pelajaran dan kerja praktek selama 5 bulan
|
Seluruh
kursus bersifat part-time sehabis jam kerja, 4/ 5 hari seminggu sejumlah 400
jpl selama masa 10 bulan
|
|
Hasil
guna
|
Jumlah
peserta masih belum memenuhi target. Ada jurusan yang popular dan tidak
|
Tercipta
tenaga kerja terampil yang berkesempatan bekerja di pemerintahan
|
|
Penilaian
|
Program
cukup berhasil, namun perlu penyesuaian lama kursus dengan kejuruan. Tindak
lanjut masih belum ada. Pendidikan kejuruan fulltime yang fleksibilitas dan
berbiaya rendah
|
Lebih
dari separoh dari peserta yang ikut ujian pertukangan pemerintah tapi hanya
22% yang lolos
|
Program untuk kaum
tukang dan pengusaha kecil di India
1. Program
Industri Umum Skala Kecil: menyediakan pendidikan bagi majikan dan karyawan
dari beranekaragam pengusaha kecil, baik pendidikan tenaga kerja maupun jasa.
2. Program
Industri Pedesaan (Rural Indutries Project): khusus ke arah pedesaan
3. Program
latihan di Gujarat untuk pengusaha baru
Membantu
para insinyur dan tenaga teknik yang menganggur untuk dididik menjadi
wiraswastawan indutri yang berdiri sendiri dengan membantu mereka memulai
usahanya.
Kesulitan
India adalah dalam penentuan dan pengklasifikasian sasaran program
BAB 6. PENDEKATAN
SWADAYA BAGI PEMBANGUNAN PEDESAAN
Pada bab ini dibahas mengenai
program-program yang didasarkan pada gagasan yang lebih luas yaitu gagasan yang
didasarkan asumsi yang berbeda tentang cara yang tepat untuk menggerakkan usaha
pembangunan.
Menurut pandangan penulis untuk mengadakan pembangunan desa diperlukan
perombakan yang mendasar mengenai seluruh lembaga, proses dan hubungan yang
terdapat di daerah pedesaan dalam bidang ekonomi, sosial, politik, dan
kebudayaan. Yang mereka pandang sebagai hambatan utama terhadap perombakan
tersebut adalah sikap Fatalisme, sikap menerima nasib, dan
sikap ketergantungan dan kurang yakin akan kemampuan diri yang secara
tradisional menjadi sikap penduduk bersangkutan. Dan yang diperlukan
selanjutnya menurut pandangan ini ialah menciptakan kesadaran dan pertisipasi
politik dikalangan penduduk serta meningkatkan semangat gotong-royong dengan
memperkokoh lembaga-lembaga demokrasi di daerah bersangkutan dan memperluas
dasar kepemimpinan masyarakat. Para penganut aliran Pendekatan swadaya (self-help) dalam rangka pembangunan
pedesaan mendasarkan strategi mereka lebih pada suatu teori pembangunan humanistis
daripada teori pembangunan teknokrasi. Mereka menjujung tinggi
daya ilmu pengetahuan dan teknologi, namun mereka lebih yakin kepada daya-suai
manusia.
Kebanyakan kaum penganut pendekatan ini
bersikap skeptis dan kritis terhadap pendidikan formal,
karena mereka berpendapat bahwa
pendidikan formal lebih banyak mengasingkan kaum pemuda dari lingkungannya, dan
kurang membantu mereka untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan itu,
pendidikan sekolah formal lebih banyak mengikat mereka kepada suatu paham ortodoks,
daripada membebaskan mereka untuk mengembangkan kepribadian sendiri. Namun para
penganut tersebut lebih cenderung
menyetujui pendekatan pendidikan non-formal yang berwujud penyuluhan dan
pendidikan. Yang ditentangnya sikap otoriter yang seringkali menjiwai
teknik pendikdikan non-formal tersebut.
Sekalipun program-program yang
menjunjung pedekatan swadaya bersumber pada filsafat pembangunan yang sama,
namun beberapa segi mereka saling berbeda. Diantaranya yaitu :
1.
Program
Pembangunan Masyarakat
(CD = Communication Development) di India dan gerakan Animation Rurale
(Penggairan Pedesaan) di Senegal keduanya merupakan kegiatan nasional semesta
dengan dispnsori pemerintah, yang bertujuan membangkitkan semangat serta hasrat
pembanguan di kalangan penduduk pedesaan dan untuk mencetuskan daya-kerjanya
untuk membantu mencapai tujuan dan kebijaksanaan nasional dengan dibantu oleh
pemerintah.
2.
Gerakan Pembanguan Pedesaan Filipina (PRRM
= Philippine Rural Reconstruction Movement) sebagai gerakan sukarela dalam
wilayah geografi terbatas di Filipina, namun kemudian menjalar mencakup
negara-negara berkembang lainnya; gerakan ini mencerminkan suatu pola baru
dalam usaha mengantar kaum petani tradisional ke dalam dunia modern, khususnya
melalui pendidikan.
3.
Gerakan
Kebudayaan Rakyat (ACPO = Accion Cultural Popular)
di Colombia termasuk suatu kelompok tersendiri, karena merupakan suatu badan
pendidikan nasional, swasta yang didukung oleh gereja yang bertujuan mendidik
kaum campesino
yang terlantar dan miskin agar dapat menjadi manusia modern yang
diberi semangat dan sarana untuk memperbaiki nasib dengan kemampuan sendiri.
PENDEKATAN
PEMBANGUNAN MASYARAKAT
Pendekatan Pembangunan Masyarakat tersebut
bertujuan untuk menyempurnakan keadaan kesehatan, gizi, pendidikan golongan
dewasa dan kesejahteraan masyarakat umum di daerah pedesaan. Tetapi yang
menjadi tujuan utamanya ialah pengembangan sosial, bukan pengembangan ekonomi.
Program tersebut yang dimulai di
India pada tahun 1952 mencakup tujuan pengembangan sosial dan juga ekonomi
serta lebih banyak corak kegiatannya.
Program Pengembangan
Masyarakat (CD) di India
Program ini pada mulanya diselenggarakan
sebagai suatu proyek perintis dengan pola sempurna, kemudian karena desakan dan
harapan rakyat yang meningkat, proyek tersebut diperluas pada skala nasional
dalam rangka Rencana Pembangunan Lima Tahun. Yang bertujuan untuk menyediakan
jasa-jasa keahlian dari kementerian Pertanian, Kesehatan, Pekerjaan Umum,
Koperasi dan Industri Kecil, guna menunjang usaha pembangunan masyarakat dan
alat bagi masyarakat pedesaan untuk memperbaiki keadaan pertanian, kesehatan,
pendidikan dan perumahan dengan menyelenggarakan program biaya ringan untuk
menyediakan bantuan teknik dan pendidikan non-formal yang bertujuan menggali
dan menyalurkan dan konstruktif dari penduduk desa itu sendiri.
Organisasi dan Kepegawaian di Negara
yang berpenduduk terbanyak nomor dua, sangat menarik perhatian; pertama karena organisasi itu meletakkan
dasar bagi program pembangunan masyarakat dimasa kemudian, dan kedua karena ia menonjolkan kesulitan
hakiki untuk usaha memanfaatkan sumberdaya dari kelompok birokrasi yang
masing-masing berfaham berlain-lainan, untuk menciptakan suatu gerakan
pembangunan pedesaan yang terpadu suatu yang sulit bagi negara manapun juga.
Suatu Pembaharuan yang penting, ditampilkan sebagai hasil evaluasi kritis
terhadap pengalaman CD pada zaman permulaan, ialah sistem Panchayat (Dewan
Rakyat) tiga tingkat, yaitu pada tingkat desa,”block” dan distrik, tujuannya
untuk memberi peranan yang lebih penting kepada tokoh-tokoh yang dipilih oleh
penduduk untuk segala kegiatan mengenai perencanaandan pelaksanaan usaha
pembangunan di pedesaan didaerahnya masing-masing dengan demikian memperkokoh
lagi semangat swakarsa.
Program
Pendidikan, hampir seluruh usaha pendidikan dalam rangka
program CD bersifat non-formal dan tidak baku. Petugas tingkat desa (VLW =
Village Level Worker) sering didampingi oleh tamu tenaga ahli tingkat “block”
atau distrik, bertindak sebagai petugas penyuluhan berkenaan dengan aneka ragam
soal.
PENDEKATAN
“ANIMATION RURALE” (AR)
Di Afrika wilayah bekas
jajahan Perancis (Franciphone Afrika), seperti halnya Gerakan Pengembangan
Masyarakat (CD) telah digairahkan oleh keyakinan bahwa pembangkitan hasrat dan
semangat penduduk pedesaan merupakan syarat mutlak untuk setiap usaha
pembangunan pedesaan. Gerakan “Animation
Rurale” muncul sebagai suatu gerakan nasional dengan maksud melaksanakan
sasaran dan rencana pembangunan nasional yang luas. Namun, berlainan dengan
gerakan CD, animation rurale ini memusatkan usahanya kepada identifikasi dan
pendidikan secara sistematis untuk suatu kelompok perintis atau “animateurs”,
yang harus bertindak selaku perintis dan katalisator pembaruan di daerah
pedesaan dan sebagai tokoh penghubung di antara fihak pemerintah dengan
penduduk pedesaan.
Gerakan
Animation Rurale (AR) di Senegal
Latar
belakang. Intisari (AR) ini suatu panduan gagasan sosiologi
dan politik dengan sedikit bumbu ekonomi, ialah anggapan bahwa kaum petani di
pedesaan harus digairahkan oleh seorang teman sekampung agar mereka mampu
menyadari dan mengungkapkan hasrat dan perbaikan nasib sendiri, dan berprakarsa
untuk mengadakan tindakan swakarsa, dan untuk menuntut bantuan dan jasa-jasa
yang dibutuhkan dari pihak Pemerintah pusat atau dinas-dinas teknik lainnya,
untuk memperlancar usaha swakarsa itu untuk turut menjamin tercapainya
cita-cita dan sasaran nasional.
Tujuan.
Gerakan ini dari segi politik dipandang sebagai suatu sarana untuk melaksanakan
“dekolonisasi” hubungan warisan jajahan diantara pemerintah pusat dengan rakyat
jelata di pedesaan, dan untuk menyebarkan “keagaiban pembangunan” serta
mobilisasi rakyat pedesaan untuk menampilkan prakarsa pembangunan yang timbul
dari urat akar penduduk desa.
Organisasi.
Setelah gerakan (AR) mulai bergerak, serangkaian lembaga-lembaga muncul
disekitarnya untuk turut mendukung strategi menuju modernisasi cara-cara
bercocok tanam tradisional, meningkatkan produk pertanian, mengusahakan
penganekaragaman budidaya, dan memberi peranan lebih besar kepada penduduk desa
dalam usaha pembangunan Nasional melalui pembentukan koperasi-koperasi petani
dan perencanaan berdesentralisasi.
Metode.
Para perintis atau “animateurs” itu adalah kaum petani desa yang dipilih atas
dasar musyawarah dengan penduduk desa. Mereka menempuh latihan intensif pada
pusat Animation Rurale dalam ilmu kewarga-negaraan, maksud rencana pembangunan
nasional, metode pengelolaan koperasi, inovasi dalam bidang pertanian dan
perhewanan.
Reorganisasi.
Pada tahun 1967 Pemerintah pusat mengalami reorganisasi dalam sruktur
administrasi pembangunan pedesaan, yang diperlukan kaum petani ialah jasa
teknik tertentu, bukan jasa-jasa pendidikan umum atau penasehatan yang
disediakan oleh program AR.
Penilaian. Gerakan AR
di Senegal telah mencapai sasaran pertama yaitu menggairahkan minat penduduk
desa terhadap usaha pembangunan dan membangkitkan kesadaran AR, gerakan
tersebut dilepaskan kementerian pertanian dirombak menjadi “promotion humanio”
–“pembinaan watak kemanusiaan” dan dijadikan suatu program kebudayaan dan
pendidikan dalam lingkungan kementerian dan olahraga. Interprerasi yang paling
gamblang bahwa di Senegal dan seluruh dunia yang berkembang, keseluruhan proses
untuk merombak masyarakat dan lembaga-lembaga pedesaan dalam prakteknya
ternyata jauh lebih berat dan pelik daripada yang diperkirakan semula.
PROGRAM DENGAN DASA SWAKARSA
Gerakan swakarsa di
India dan di Senegal merupakan gerakan nasional semesta yang diarahkan oleh
pemerintah, dan dikaitkan dengan rencana dan kebijaksanaan pembangunan
nasional. Keunggulan dan kelemahan hakiki berlaku baik terhadap pendidikan
formal maupun pendidikan non-formal. Terutama penting berkenaan dengan usaha
swadaya didaerah pedesaan, karena keberhasilannya mutlak ditentukan oleh mutu
dan kesinambungan tokoh-tokoh yang bekerja pada tingkat daerah. Tidak semua
program swakarsa menitikberatkan peranan koperasi ataupun perpaduan input
pendidikan dengan faktor-faktor pelengkapnya. Program Gerakan Kebudayaan Rakyat
(Accion Cultural Popular = ACPO) di Kolombia, memiliki berberapa ciri khas dan
terbukti kegunaannya selama dua dasawarsa ini, salah satu ciri khas itu adalah
penggunaan teknik pendidikan multi-media untuk menjangkau penduduk pedesaan
seluruh negeri; penggunaan tenaga sukarelawan di daerah; dan sejarahnya sebagai
badan swakarsa atau sukarela yang banyak mengumpulkan dana dengan kegiatannya
yang menghasilkan pendapatan uang.
Gerakan Pembangunan Pedesaan Filipina
(PRRM)
Latar
belakang. Keadaan di daerah pedesaan di Filipina pada pertengahan
pertama dasawarsa 50-an sangat rusuh. Kebanyakan penduduk hidup miskin,
beberapa daerah dikuasai oleh gerakan
Huk Balahap, yang umumnya dianggap dikuasai oleh golongan komunis. Ketika
Y.C.”Jimmy” Yen, seorang tokoh dengan sifat-sifat prikemanusiaan dan
kepemimpinan unggul dan berpengalaman dalam kegiatan pembangunan Pedesaan di
Tiongkok masa sebelum perang bersedia menyelenggarakan suatu proyek pembangunan
pedesaan di Filipina, Pemerintah dengan gembira merestuinya. Maka pada tahun
1952 didirikan PPRM.
Tujuan.
Strategi program ini diarahkan pada pembongkaran apa yang dipandang sebagai
hambatan terhadap peningkatan mutu kehidupan di pedesaan, yaitu: Kemiskinan,
penyakit, kebodohan, dan sikap apati penduduk.
Hasil
guna.
Karena telah terbukti keefektifan metodologi untuk menggairahkan pembangunan
pedesaan, usaha PPRM telah merangsang pembentukan (1956) dari suatu program
resmi pemerintah yang disebut Penyambung Tangan Presiden untuk pembangunan
masyarakat (PACD = Presidential Arm for Community Development), dan kepada PPRM
diminta bantuan untuk melatih tenaga kerja untuk program pemerintah ini atas
dasar kontrak.
Penilaian.
Sekalipun telah berhasil dengan baik, pihak PPRM pada tahun 1971 dihadapkan
dengan 2 masalah yang parah: Pertama,
Mengenai kelestarian impaknya yaitu apakah mungkin diciptakan suatu proses
pengembangan yang berkesinambungan, sekiranya gerakan PPRM mundur dari suatu
daerah tertentu. Kedua, soal
kemungkinan mengerahkan tenaga sarjana muda yang cakap dan bermotivasi tinggi
untuk bertugas selaku petugas (RRW = Rural Reconstruction Worker/ Petugas
Pembangunan Pedesaan) entah apa sebabnya akhir-akhir ini sangat merosot
tersedianya tenaga sukarela yang memenuhi syarat-syarat.
Gerakan
Kebudayaan Rakyat (ACPO)
Kelompok
sasaran. Gerakan ACPO di Kolombia, yaitu suatu gerakan yang
didukung namun tidak dikelola oleh gereja Katolik. Memulai usahanya tahun 1947
dengan siaran pendidikan dari suatu tempat pemancar radio. Namun semenjak itu
dikembangkan menjadi suatu sistem pendidikan aneka-media yang ditujukan kepada
seluruh penduduk di daerah pedesaan, sasaran utamanya masyarakat yang paling
miskin.
Tujuan.
Membina motivasi untuk pembangunan dikalangan kaum “campesino” dengan
menyediakan kesempatan untuk meningkatkan kemampuan dan tarah kesejahteraan
sendiri. Merangsang proses ekonomi dengan penyebarluasan teknologi pertanian
yang mutakhir, membina pemahaman dan perngertian tentang berbagai lembaga dan
kegiatabn ekonomi dan kesadaran tentang kemuliaan karya. Memupuk pengembangan
spiritual dengan membantu kamum Campesinon aga menyadari kemampuan
masing-masing untuk menjadi pelaku pembangunan sosial.
Hasil
Guna.
Usah penilaian ACPO sangat luas dan jujur, namun banyak terdapat dokumentasi
tentang hasi-hasil kuantitatif daripada kualitatif. Menurut keterangan 20.000
golongan buta huruf telah pandai baca tulis pada akhir tahun itu, 92.000 siswa
mengikuti kursus lanjutannya diantaranya 15.000 berhasil lulus dalam ujian
penutupnya. “El Campesino” terjual 70 eksemplar tiap minggunya.
Penilaian.
Terdapat indikasi bahwa efek dari program ACPO juga berbeda-beda terhadap
kelompok-kelompok penduduk tertentu di wilayah yang sama, misalnya kaum petani
yang memiliki tanah sendiri (sekalipun berukuran kecil dan hanya melakukan
pertanian substensi saja) lebih besar mengharapkannya akan menanggapi dan
menerapkan pembaruan yang diajurkan oleh sekolah radio, hanya sedikit petani
yang tidak memiliki tanah, yang mengikuti pelajaran sekolah radio.
SWAKARSA DENGAN SARANA KOPERASI
Suatu syarat mutlak
untuk menjamin keberhasilan gerakan koperasi ialah suatu sistem yang mantap
untuk mendidik dan melatih para anggota dan karyawan koperasi pada tiap-tiap
tingkat, serta juga untuk para pejabat yang bertugas mengawasi koperasi itu.
Sistem
Pendidikan Warga Koperasi di Tanzania
Latar
belakang. Kepada gerakan koperasi diserahkan peranan utama
dalam strategi asli negara Tanzania yang bertujuan mengubah daerah pedesaan
yang amat luas untuk menjelma sebagai suatu masyarakat agraria Afrika gaya baru
yang didasarkan kepada asas-asas sosialisme.
Organisasi.
Struktur vertiksl gerakan koperasi didasarkan sekitar 1.800 “koperasi primer”
pada tingkat lokal, dengan “gabungan” (union) pada tingkat daerah, dan
persatuan koperasi Tanzania sebagai organisasi puncak.
Penilaian.
Sistem pendidikan perkoperasian di Tanzania ada diselenggarakan dan telah dapat
melayani kelompok sasaran yang besar jumlahnya dan terpencar-pencar kediamannya
masing-masing dalam waktu relatif singkat, dengan secara imajinatif dan
non-konvensional memanfaatkan aneka ragam metode pendidikan dan media.
PENDEKATAN TINGKAT
DASAR MENUJU PEMBANGUNAN
Suatu pendidikan
perkoperasian yang bertolak belakang dilukiskan pada proyek Comilla di daerah
Benggala Timur negara Pakistan dulu (kini Bangladesh). Komponen pendidikan dari
proyek Comilla tersebut amat mengesankan karena ia berwujud suatu badan
penyuluhan dimana sebagian besar kegiatannya mengalir dari atas ke bawah (top
down). Struktur pendidikan yang dari semula menitikberatkan peningkatan
produksi hasil bumi, telah menyediakan kerangka untuk pendidikan secara jauh
lebih luas sebagai dasar untuk melayani kebutuhan daerah akan usaha
pembangunan.
Proyek
Comilla
Tujuan
Bidang Pedidikan. Bahwa penduduk desa sendiri memilih
seorang warga untuk bertindak selaku penghubung urusan pendidikan dengan
berbagai sumber pengetahuan yang sesuai dengan kebutuhannya (menurut pandangan
mereka sendiri). Kegiatan ini merupakan bagian dari suatu rangkaian prosedur
mengenai pembentukan, pengurus dan penyelelenggara berbagai koperasi lokal,
yang dibina pada waktu bersamaan oleh pihak akademi Pembangunan Pedesaan
bersama dengan penduduk desa.
Struktur.
Tokoh “organisator” serta seorang “petani teladan” yang dipilih pula bertindak
sebagai guru pertanian utama dalam lingkungan masyarakat sendiri, dan bukanlah
seorang petugas penyuluhan dari luar desa. Para wakil koperasi itu secara
berkala mengunjungi akademi untuk menerima pelajaran dan nasehat dari seorang
ahli, disamping bantuan teknik berkenaan dengan masalah yang telah diperincikan
sendiri berdasarkan pada perundingan rapat koperasi.
Penilaian.
Hingga pada saat kekacauan karena perang kemerdekaan tahun 1971, proyek Camilla
mempunyai riwayat keberhasilan yang gemilang, disamping berbagai masalah yang
cacat yang menahun. Proyek itu telah membuktikan cara bagaimana dapat diberi
hak bersuara dan peranan aktif yang lebih besar kepada penduduk dan pejabat di
daerah dalam usaha pengembangan pedesaan, serta juga suatu cara yang mantap
untuk merangkapkan jasa-jasa untuk pedesaan dari badan-badan pemerintah yang
jauh letaknya, termasuk jasa pendidikan agar merupakan satu bingkisan yang
lebih terpadu dan efektif.
BAB 7. PENDEKATAN
TERPADU MENUJU PEMBANGUNAN
Pendekatan terpadu
didasarkan pada pemikiran bahwa untuk mendorong kemajuan pertanian diperlukan
suatu rangkaian faktor-faktor tertentu, dan bukan hanya diperlukan teknologi
serta pendidikan yang tepat, melainkan juga penyediaan input dan pasaran, serta
harga yang menguntungkan. Semakin banyak pengamat mengenukakan bahwa mutlak
perlu diciptakan suatu infrastruktur kelembagaan dan fisik yang serasi di
pedesaan, untuk menyediakan jasa-jasa angkutan, perkreditan, input dan
pemasaran yang perlu untuk mencapai pembangunan, disamping jasa-jasa informasi
dan pendidikan.
Pandangan aneka
sistem berkenaan dengan pembangunan pertanian dengan laju tersebar selama akhir
tahun 60-an dan awal 70-an, dan menghasilkan proyek-proyek pebangunan pertanian
yang bersifat lebih komprehensif. Aliran ini ditonjolkan pada empat proyek
yaitu: Unit Pengembangan Pertanian Chilalo (CADU = Chilalo Agricultural
Development Unit), Etippia; Program Kredit dan Kerjasama Pertanian (PACCA = Programme
on Agricultural Credit and Cooperation in Afganistan; proyek Pueblo di Meksiko
dan Program Pengembangan Tanah Lilongwe di Malawi. Proyek IADP di India di
mulai sebagai gagasan tentang suatu usaha penanggulangan kekurangan pangan yang
semakin gawat, dan untuk sebagian besar diselenggarakan oleh pihak pemerintah
sendiri. Proyek PACCA dan CADU di dasarkan kepada keyakinan yang bersumber pada
dunia barat, bahwa suatu pendekataan yang lebih berencana serta lebih terpadu
berkenaan dengan produksi hasil bumi, dengan memanfaatkan koperasi selaku
sarana utama, mungkin merupakan upaya yang paling ampuh untuk membebaskan kaum
penduduk pedesaan dari cengkeraman subsistensi, seraya bersamaan waktu dapat
diusahakan keadilan sosial serta peningkatan mutu keluarga dan mesyarakat. Para
perencana proyek Lilongwe mendambakan tujuan yang sama, namun mereka tidak
menitikberatkan organisasi koperasi.
DARI KEBERHASILAN EKONOMI MENUJU
PEMBANGUNAN SOSIAL
Rencana
Gezira.di Sudan khusus mengesankan karena perkembangan
selama beberapa dasawarsa dari suatu proyek dengan tujuan ekonomi terbaatas,
hingga menjadi proyek yang bersifat luas dengan tujuan sosial yang penting-penting,
karena poryek ini menggarisbawahi kenyataan bahwa kemajuan ekonomi melulu tidak
akan cukup untuk menghasilkan perombakan suatu masyarakat. Proyek Gezira
menujukkan bahwa mudah saja menggabung beberapa unsur ke dalam manajemen yang
sama untuk pembangunan pertanian dan pedesaan.
Tujuan
Semula dan Metode. Proyek Gezira diluncurkan segera
setelah habis perang dunia I di bawah penguasa jajahan inggris sebagai suatu
proyek irigasi besar-besaran dengan tujuan untuk meningkatkan produksi kapas
yang potensial menguntungkan disuatu daerah di Sudan, yang pada permulaan
mencakup daerah sebesar 100.000 acres, dan berangsur-angsur diperluas sampai
mencakup sekitar sejuta acres dengan 120.000 kepala keluarga petani.
Hasil
dan Perluasan Tujuan. Menjelang tahun 1940, karena alasan
politik dirasakan mutlak perlu menungkatkan mutu kehidupan keluarga dan
masyarakat, untuk menjamin bahwa penduduk daerah pedesaan jangan terlalu jauh
tertinggal oleh penduduk kota yang keadaannya semakin membaik, dan untuk
melangkah maju ke arah “Sudanisasi”. Salah satu langkah permulaan kearah
“Sudanisasi” ialah memberi pendidikan dalam bidang pertanian kepada tokoh
penduduk tertentu, agar mereka akan dapat mengganti pegawai bawahan dari
sindikat. Karena disadari betapa rawannya suatu pendekatan otoriter dalam
pekerjaan penyuluhan pertanian, pihak sindikat mengakui bahwa “perlu lebih
banyak dilaksanakan pendidikan praktis dalam bidang pertanian, disamping hanya
memberi perintah saja.
Menangkis
Bahaya Kelaparan : Program IADP di India
Latar
belakang. Selama dasawarsa 50-an situasi penyediaan pangan
di India terus menerus memburuk, yang bertanbah parah karena pesatnya
pertumbuhan penduduk. Sekiranya tidak diadakan impor bahan pangan
besaar-besaran dari negara barat, pasti terjadi bahaya kelaparan yang gawat
pada waktu musim gersang pada tahun-tahun 1957 dan 1958.
Tujuan.
Suatu team ahli internasional dalam laporannya kepada pemerintah India
memperingatkan bahwa krisis pangan itu bukan suatu yang sementara saja, akan
tetapi lebih gawat lagi, sekalipun pada tahun-tahun musim hujan yang deras,
kecuali ada tindakan tegas untuk menanggulanginya. “Program Paket” dengan 10
pokok anjuran diajukan oleh team tersebut dan diterima oleh pemerintah India
dengan beberapa penyesuaian, dan dijadikan dasar bagi Program Distrik Pertanian
Intensif (IADP) yang dilancarkan pada tahun1960.
Organisasi.
Pada permulaannya IADP hendak dilaksanakan pada suatu distrik berpotensial
tinggi, masing-masing diantara 10 negara bagian yang terdapat di India pada
waktu itu. Pada setiap distrik bersangkutan diangkat seorang direktur proyek
dengan seregu para ahli pertanian, yang sekalipun dibimbing oleh kepala
pemerintah distrik (District Collector) diberi keleluasaan besar sekali untuk
merencanakan dan melaksanakan suatu rencana pengembangan pertanian yang
disesuaikan dengan kebutuhan distrik dan persediaan sumberdaya.
Hasil Guna. Pada akhir dasawarsa 60-an dan permulaan
dasawarsa 70-an banyak hambatan bagi peningkatan produksi pertanian telah
disingkirkan, dan produksi biji-bijian di India mulia meningkat, dan
distrik-distrik IADP jelas menunjukkan keunggulan dibanding dengan distrik
lain.
PENDEKATAN PAKET
KOMPREHENSIF
IADP,
bersama proyek Commila dan eksperimen Israel dalam usaha pembangunan pertanian
terpadu, banyak pengaruhnya atas desain untuk proyek CADU di Etiopia dan
terhadap bantuan bilateral swedia (SIDA) untuk memberi dukungan besar dan
berjangka lama pada proyek tersebut. Para pejabat bantuan Swedia telah menarik
kesimpulan bahwa untuk memberi dorongan kuat kepada pengembangan pertanian
sebagai prasarat untuk memperbaiki nasib petani di masyarakat yang miskin,
diperlukan suatu pendekatan yang lebih Komprehensif serta lebih berkoordinasi
agar pertaniannya dapat didorong maju.
Unit Pengembangan Chilalo (CADU)
Latar Belakang.
Daerah Chilalo di Etiopia yaitu lokasi proyek CADU pada dasarnya merupakan
daerah pedesaan tradisional yang statis. Sebelum tahun 1968, tahun dimulainya
pelaksanaan CADU, hanya dilaksanakan uasaha pembangunan kecil-kecilan, yang
hampir tidak ada perubahan yang nyata, kecuali bagi segelintir kaum petani yang
berada, dengan ladang yang cukup luas dan yang bersifat Progresif.
Perencanaan.
Setelah Chilalo ditunjukkan sebagai daerah proyek maka diselenggarakan
penelitian intensif dalam bidang agronomi, kehewanan, kehutanan, lingkungan
ekonomi dan sosial, dan disusun suatu rencana kerja untuk program jangka 13
tahun, terdiri atas tahap pertama selama 3 tahun, dengan tahap kedua dan
ketiga, masing-masing selama 5 tahun.
Tujuan.
Sasaran proyek ini ialah : (1) Melaksanakan pembangunan ekonomi dan sosial
diseluruh wilayah proyek; (2) Membangkitkan kesadaran dan rasa tanggung jawab
penduduk berkenaan dengan usaha pembangunan; (3) Menguji kesepadanan dari
berbagai metode pengembangan pertanian; dan (4) Mendidik tenaga pribumi Etiopia
untuk bertugas dalam pembangunan pedesaan.
Kelompok Sasaran.
Yang dijadikan sasaran CADU ialah Petani penggarap golongan menengah dan kecil
di wilayah proyek.
Penilaian.
Sejauh ini kesulitan pokok yang dialami dalam usaha melaksanakan proyek CADU
hanyalah yang bersifat politik saja. Kaum petani kaya, yang tidak diikut
sertakan dalam program, merasa kurang senang dan melakukan perlawanan, sedang
desakan yang dilakukan oleh pimpinan proyek agar diadakan “land-reform” juga
telah membangkitkan Pertentangan politik.
Program Kredit dan Koperasi
Pertanian di Afganistan
Tumbuh
berkat adanya minat bersama pada pihak FAO dan SIDA untuk mengembangkan gerakan
koperasi sebagai upaya untuk menanggulangi hambatan kredit pertanian, dan
secara lebih luas, mengadakan suatu pendekatan yang lebih menyeluruh serta
lebih terpadu terhadap usaha pengembangan pertanian, dengan memberi peranan
penting kepada organisasi kaum petani sendiri.
Tujuan.
Namun tujuan pokok dari proyek PACCA bukanlah sekedar meningkatkan produksi
pertanian di kedua daerah tersebut, namun memperkenalkan lembaga-lembaga
muktahir yang akan memungkinkan kaum petani untuk mengatur usaha sendiri,
kemudian lembaga serupa itu hendak disebarkan pula di seluruh negara
Afganistan.
Struktur.
Rencananya proyek PACCA disusun berlandaskan pada empat buah lembaga baru
diciptakan, yaitu : (1) Markas proyek Kabul, erat hubungannya dengan kementrian
pertanian; (2) Dua buah pusat pembangunan (di Koh-i-Daman dan Baghlan) berhubungan
dengan petani mengurus pengkreditan, penyediaan sarana produksi fisik dan
jasa-jasa pendidikan, sebagai lembaga persiapan untuk gerakan koperasi yang
akan dikembangkan; (3) Sebuah pusat lembaga pendidikan (Institut Pendidikan
Perkoperasian, Perkreditan dan Penyuluhan), bertempat dekat Kabul yang khusus
mengurus pengembangan tenaga kerja baik untuk usaha proyek, maupun untuk
lembaga jasa-jasa perkreditan dan pertanian nasional.
Hasil Guna.
Pada akhir tahap 3 tahunan pertama, PACCA sudah berjalan lancar. Telah mencapai
kemajuan besar dalam program pendidikan yang bercorak-ragam, sekalipun memang
mengalami penundaan dan kelambanan, khususnya dengan lambat sampainya tenaga
kerja serta alat perlengkapannya, sehingga prestasi yang tercapai masih jauh di
bawah tingkat sasaran semula.
Ajaran
yang penting yang dapat ditarik dari proyek PACCA ialah Bahwa suatu proyek
perintis yang diadakan pada wilayah tertentu dari suatu negara, betapapun
ampuhnya perencanaan dan pelaksanaannya tak mungkin luput daripada berbagai pengaruh
dan pembatasan yang timbul akibat situasi dan kebijaksanaan ekonomi dan sosial
dalam negeri, bahkan dari keadaan pasar dunia, yang letaknya diluar kekuasaan
pihak pimpinan proyek.
USAHA MENINGKATKAN
PRODUKSI DI DAERAH BERPOTENSI RENDAH
Dari
proyek PACCA kita beralih ke proyek terpadu lainnya yaitu Proyek Puebla di
Meksiko diadakan denga tujuan dan kelompok sasaran yang serupa, namun
diterapkan metode yang sangat berbeda. Jika pada proyek PACCA terdapat rasio
tinggi antara petugas penyuluhan dengan kaum petani, rasio itu sangat rendah
pada proyek Puebla. PACCA melayani petani perorangan, sedangkan Puebla melayani
kelompok-kelompok petani dengan perantara ketua kelompok. PACCA
menyelenggarakan lembaga pendidikan untuk karyawannya sendiri sedangkan Puebla
mengandalkan bantuan institut pertanian. PACCA kurang erat hubungannya dengan
usaha penelitian, sedangkan Puebla bahkan diprakarsai oleh suatu lembaga
penelitian pertanian, yang selanjutnya tetap memegang peranan penting dalam
proyek Puebla.
Proyek Puebla.
Dorongan mengadakan proyek Puebla di Meksiko bersumber kepada keresahan
dikalangan peneliti pada pusat Penyempurnaan Gandum dan Jagung Internasional
(CIMMYT) bertempat di dekat Mexico city, karena kurang diterapkan teknologi
yang disempurnakan (termasuk Varietas unggul jagung) oleh kaum petani
subsistensi yang kecil-kecil, pada ladang tadah-hujan, dibanding dengan luasnya
penerapan dikalangan petani berladang besar, di daerah dengan keadaan
lingkungan yang lebih menguntungkan.
Tujuan.
Membina suatu metodelogi untuk membantu 46.000 orang petani subsistensi
kecil-kecilan di daerah ladang tadah hujan tersebut, untuk meningkatkan kadar
gizi dan jumlah pendapatan mereka dengan meningkatkan hasil bahan pangan, umpan
hewan dan komoditi komersial.
Pengelolaan.
Orgasnisasi dan personalia proyek Puebla ini sangat sederhana mengingat bahwa
ia merupakan upaya yang bertujuan melepaskan kaum petani miskin dari
cengkeraman pertanian subsistensi, staf pimpinan terdiri atas seorang direktur
kerja sambilan di Mexico city (yang merangkap jabatan maha guru dan ahli
komunikasi pada akademi pertanian di Chapingo) dan seorang direktur lapangan
yang bertugas penuh di Puebla city. Administrasi proyek diurus oleh (CIMMYT)
regu proyek di Puebla diberi dukungan oleh para peneliti dan ahli spesialis
lainnya pada akademi Chapingo, dan lingkungan CIMMYT, serta departemen
pertanian tingkat pusat dan negara bagian.
Kepegawaian.
Pejabat penyuluhan utama adalah sarjana yang cerdas,tangkas, berpendidikan
sempurna, lulusan akademi Chapingo atau akademi pertanian lainnya di Meksiko.
Setelah bekerja selama 2-3 tahun para sarjana itu lazimnya melanjutkan studi
paska sarjana pada akademi di Chapingo untuk mengikuti program yang dapat
meningkatkan ketrampilan untuk bekerja secara efektif pada program-program
pembangunan daerah pedesaan.
Hasil guna.
Hasil pertemuan pertama bagi para ahli peneliti ialah bahwa dalam keadaan
lingkungan yang buruk dan kurang menentu di daerah Puebla ternyata jagung jenis
criolla pada umumnya terbukti lebih unggul daripada varietas baru yang
dikembangkan pada Lembaga Riset Pertanian Nasional (INIA) dan CIMMYT.
Dapat
kita tarik dari pengalaman selama masa permulaan proyek, ialah bahwa para ahli
pertanian yang bermaksud hendak menolong kaum petani untuk memperbaiki nasib dan
menambahkan produksi dan pendapatan, sebaiknya harus terlebih dahulu segala
faktor ekonomi dan lain-lain dalamsetiap situasi khusus, yang turut
pertimbangkan oleh kaum petani dalam mengambil suatu keputusan.
USAHA PEMBANGUNAN
AMBISIUS DI NEGARA KECIL
Beberapa
masalah yang berkenaan dengan rencana pembangunan pedesaan yang paling luas,
komprehensif serta paling terpadu diantara segala program yang kami jumpai
selama studi kami ini, yaitu: Program pengembangan tanah di Lilongwe, Malawi,
yang diselanggarakan dengan pinjaman “Paket Terpadu” pertama yang pernah
dikeluarkan oleh Bank dunia dalam tahun 1968.
Program Pengembangan Tanah Lilongwe
Diselenggarakan
di daerah pusat Malawi meliputi lebih dari 1,1 juta acre dari tanah yang paling
subur diseluruh negara Malawi. Kebanyakan para petani diwilayah tersebut selain
menanam bahan pangan untuk keperluan keluarga, sejak lama melakukan budidaya
komersial, terutama jagung, kacang tanah dan tembakau. Jumlah produksi mereka
dibatasi bukan karena kurang tersedianya tanah garapan, melainkan cara kerja
yang primitif. Asal saja mereka dapat
memanfaatkan tenaga hewan serta input dan cara kerja yang lebih sempurna
tingkat produktifitasnya akan dapat naik banyak sekali.
Tujuan.
Tujuan jangka pendek ialah meningkatkan produksi pertanian dan mengantarkan
para petani yang sudah mencapai taraf pertanian setengah komersial, agar
memasuki lingkungan ekonomi uang tunai sepenuhnya. Tujuan jangka panjang ialah
mengusahakan pembangunan daerah pedesaan dalam arti kata yang luas untuk menyempurnakan
penyediaan jasa-jasa pengobatan, pemerintahan daerah, pendidikan wanita dan
remaja, dan mutu kehidupan umumnya diwilayah tersebut.
Perencanaan Usaha Pembangunan
Agar
dapat bergerak cepat menuju sasaran tersebut, rencana proyek ini memerlukan
penanaman modal yang besar dan bantuan teknik yang intensif. Rencana ini
mencakup komponen-komponen berkenaan dengan fasilitas kredit dan
pemasaran,konversi tanah, dan pengairan, pembuatan jalanan, suatu program
peternakan, dan pengembangan suatu infrastruktur adminitratif dan sosial,
termasuk fasilitas pendidikan dan kesehatan.
Pimpinan Dan Personalia.
Tanggung jawab bagi usaha pembinaan pembangunan dan penyelengaraan suatu sistem
pengajaran yang beranekaragam itu diserahkan kapada seorang pemimpin program
pendidikan, yang diberi wewenang untuk menarik tenaga ahli dan pejabat untuk
membantu usaha pendidikan ini, serta mengatur suatu pusat lembaga
pendidikan,dan mengawasi suatu jaringan fasilitas-fasilitas pendidikan.
BAB
8. KUPASAN MENGENAI SISTEM PENDIDIKAN DAN PENELITIAN DALAM BIDANG PERTANIAN
SUASANA PENDIDIKAN
PETANI
Program-program
itu masing-masing harus dipandang sebagai komponen-komponen dari suatu sistem
pelimpahan pengetahuan yang bertujuan menolong kaum petani beserta keluarganya
masing-masing untuk menarik manfaat seoptimal mungkin dari kesempatan yang
tersedia bagi mereka. Selanjutnya harus dipandang pula sebagian dari suatu
sistem pengembangan pertanian dimasing-masing daerah pedesaan, disamping
unsur-unsur pendidikan, juga mencakup beberapa faktor luar pendidikan yang
mutlak diperlukan.
Faktor Utama Yang Menentukan
Produktifitas
Soal
efisiensi intern (efektivitas biaya) dan produktifitas ekstern (bandingan
biaya/manfaat) ditentukan bukan semata-mata oleh segala apa yang dilaksanakan dalam
program saja melainkan juga oleh : (1) Segala macam dukungan yang diperoleh
dari komponen lain dalam rangka sistem pengetahuan pertanian ;(2) Segala karakteristik lingkungan (ekologi),
ekonomi, politik dan sosial serta
potensi pengembangan dari suatu bidang khusus pertanian, dimana program
itu sedang diselenggarakan; (3) Ciri –ciri khas kaum petani bersangkutan, serta
seberapa jauhkah pengetahuan yang ditawarkan kepada mereka ada relevansinya
dengan kepentingan dan motivasi kaum tani itu; (4) Ada atau tidakkah tersedia
faktor pelengkap usaha pembangunan (misalnya: penyediaan kredit,air, sarana
produksi kimiawi, kesempatan pemasaran, dan insentif yang menarik) dan
bagaimana input pendidikan dikaitkan dengan faktor-faktor pelengkap tersebut.
MENGIDENTIFIKASI
KEBUTUHAN PETANI AKAN PENGETAHUAN
Ajuran
praktek untuk para petani kadangkala sudah cocok dengan keadaan setempat,
karena para ahli yang bertanggungjawab memang secara seksama telah menelaah
kebutuhan setempat, namun lebih sering anjuran itu kurang tepat dan akan
ditolak oleh kaum tani, karena kurang tepat diadakan diagnosa mengenai
kebutuhan meraka, dan khususnya mengenai faktor-faktor ekonomi dan keadaan
mereka.
Seorang
Petugas penyuluhan yang sangat cerdas,
dan benar-benar mengenali kaum petani yang dilayaninya, telah berhasil
mengadakan diagnosa yang tepat tetang pengetahuan yang di butuhkan kaum petani
tersebut, belum tentu pesannya akan sampai pada ahli peneliti yang bersangkutan
karena terdapat kemampatan dalam saluran komunikasi, ataupun karena tidak
tersedianya saluran komunikasi dari pihak petugas penyuluhan ke arah para ahli
peneliti.
Hubungan
Antara Ahli Peneliti, Petugas Penyuluhan dan Petani
Untuk
mengenal dan menanggapi kebutuhan petani terhadap pengetahuan tertentu akan
dilayani secara sempurna apabila sistem penelitian itu langsung dapat mencapai
para petani di daerah yaitu bilamana para peneliti memelihara hubungan erat,
baik dengan para penyuluh, maupun langsung dengan tokoh-tokoh petani tertentu.
Mengkhususkan
Budidaya Komersial Utama
Pada
saat ini, dimana sudah jelas kebutuhan petani, pusat penelitian dan dinas
penyuluhan yang mengkhususkan budidaya tunggal itu, yang telah “berjasa”
membantu mereka meningkatkan terlalu banyak produksi komoditi tertentu, kurang
mampu untuk memberi penerangan atau petunjuk mengenai budidaya alternatif.
Penyorotan
seluruh usaha penelitian dan pendidikan kaum petani khusus terhadap satu atau
beberapa budidaya komersial tertentu, sungguh merugikan kepentingan para petani
subsistensi, yang lebih berminat kepada tanaman yang berlainan sama sekali.
Mereka memerlukan bantuan untuk meningkatkan kadar gizi dan kwantitas hasil
panen dari tananaman pangan untuk keluarganya sendiri, yang seringkali bukan
merupakan budidaya komersial. Maka kurang sekali usaha penelitian yang
diarahkan kepada kebutuhan para petani subsistensi ini di seluruh negara-negara
berkembang.
Kebutuhan
Petani Kecil Mengenai Pengetahuan
Para
petani kecil sangat membutuhkan bantuan agar mereka dibimbing menjadi perencana
dan pengelola ladang yang lebih terampil. Hasil nyata ialah bahwa banyak sekali
kebutuhan petani ditangkap atau ditafsirkan secara salah ataupun sama sekali
diabaikan, khususnya berkenaan dengan kepentingan para petani kecil. Kaum
petani yang berladang besar-besar, yang lebih mampu untuk mendiagnosa
kebutuhannya sendiri, dan dalam keadaannya dapta saja melampaui petugas
penyuluhan setempat dan langsung menghubungi induk sumber pengetahuannya, lebih
banyak menarik manfaat dari penemuan penelitian baru, daripada para tentangga
petani kecil-kecil. Inilah yang terjadi dalam daerah-daerah “Revolusi hijau” di
India dan Pakistan.
Penyebaran
Dan Penerapan Pengetahuan
Atas
dasar asumsi bahwa kebutuhan pengetahuan kaum tani telah diidentifikasi secara
tepat (fungsi I), dan bahwa telah dipersiapkan atau dicipatakan pengetahuan
yang tepat sebagai tambahan atas kebutuhan itu (fungsi II), maka kemudian harus
diusahakan menutup lingkarannya dengan mengantarkan pengetahuan itu kepada kaum
petani dan membantu mereka untuk menghayati dan menerapkan pengetahuan itu
(fungsi III).
Beberapa
Kelemahan Dinas Penyuluhan
Peningkatan
produksi pertanian dipandang sebagai tujuan utama dan sebagai kriteria untuk
menilai keberhasilan pembangunan pertanian (E.B. Rice menyatakan bahwa
pandangan picik ini khususnya dianut oleh “Aliran Penyuluhan” – Extensionist school
– di Amerika latin, diilham oleh kalangan ahli AS).
Ini jelas
merupakan pandangan picik tentang proses pembangunan pertanian, baik berkenaan
dengan program penyuluhan pertanian maupun program pendidikan petani. Namun
jujurnya perlu kami mengemukakan tiga hal : (1) Pandangan picik itu bukanlah
umum dianut oleh seluruh tokoh yang bergiatdalam bidang penyuluhan dan
pendidikan; (2) Pandangan picik ini seringkali diperkokoh karena terkucilnya
kalangan petugas punyuluhan dari berbagai usaha pelengkap di bidang pembangunan
pertanian; dan (3) golongan ahli pertanian lainnya juga ada yang menaruh
pandangan yang picik serta kurang realistis dalam gagasan masing-masing
mengenai usaha pengembangan pertanian.
Tujuan
Prioritas dan Sasaran
Yang terlebih
tegas menginsafi tujuan, prioritas serta tugas sehari-hari, ialah para prtugas
penyuluhan yang bekerja dalam rangka sesuatu proyek terpadu yang rapi
pengelolaannya, seperti misalnya CADU, Lilongwe, dan dulb proyek Gezira.
Maka kegiatan
penyuluhan yang diarahkan khusus kepada kaum tani yang lebih berada dan lebih tinggi tingkat
kecerdasannya pada hakekatnya merupakan
strategi yang boros dan menyesatkan.
Karena para petani yang sudah cerdas tidak memerlukan bantuan atau dorangan
dari petugas penyuluhan, untuk menerapkan suatu teknologi baru yang jelas
menguntungkan (misalnya: penggunaan bibit unggul), disertai lagi dengan segala
imbalan dan fasilitas perangsang pula. Agaknya lebih tepat bila tenaga petugas
penyuluhan itu mengarahkan kegiatannya kepada kaum tani yang kurang cerdas,
yang lebih banyak membutuhkan bantuannya.
Pemanfaatan
Sumberdaya Secara Efisien
Salah satu
sumber kemerosotan effisiensi, ialah kenyataan bahwa para petugas penyuluhan
itu dibebankan tugas sampingan di luar bidang penyuluhan. Contohnya Pekerjaan
kantor, memelihara catatan, menagih uang tabungan, mengumpulkan data
sensus,dsb. Yang mengalihkan mereka dari tugas pokoknya, yaitu membantu kaum
petani.
Faktor lain yang
menghambat petugas penyuluhan dalam melakukan tugasnya adalah kurangnya
tersedia kendaraan. Karena apabila penyuluh berkunjung ke ladang para petani
yang berjauhan jaraknya, seringkali menghabiskan lebih dari separuh waktunya
untuk bergerak dari ladang ke ladang yang lainnya. Hal tersebut merupakan
pemborosan tenaga profesional yang bernilai tinggi.
PEMBINAAN DAN PEREMAJAAN KARYAWAN
Untuk menjamin efektivitas kerja setiap sistem
pendidikan pertanian memerlukan karyawan berpendidikan spesialis aneka ragam,
dengan pendidikan persiapan sempurna pada tingkat pendidikan tinggi, yang dilengkapi
lagi dengan pendidikan tambahan dalam dinas secara bersinambung, agar mampu
mengikuti segala perkembangan baru dan dapat maju dalam profesi masing-masing.
Diantara keseluruhan tenaga kerja itu yang paling kurang diindahkan ialah
golongan penyuluh lapangan setempat dan dibutuhkan beberapa hal yang dapat
menunjang hal tersebut diantaranya Pendidikan pertanian yang formal, Pendidikan
Prakarya dan Latihan Dinas.
Dari uraian tersebut diatas dapat diambil kesimpulan
utama kami tarik dari tinjauan umum mengenai struktur pembinaan karyawan dalam
rangka sistem pengetahuan pertanian sebagai berikut
1.
Didirikannya universtas di daerah
pedesaan yang akan menyelengarakan program-program penelitian dan poendidikan
yang mencakup aneka ragam kebutuhan di daerah pedesaan, dan bukan hanya dalam
bidang pertaniaan saja. Dengan adanya universitas daerah pedesaan, maka terbuka
kesempatan yang lebih luas bagi para muda-mudi untuk membina seluruh potensi
kemampuan sendiri untuk berbagai peranan pemimpin dalam usaha pembangunan
daerah pedesaan.
2.
Perlu diadakan usaha sungguh-sungguh
untuk memperkokoh usaha latihan kedinasan dengan tujuan pembinaan karir bagi
seluruh karyawan yang terlibat dalam kegiatan mendidik, membimbing para petani
beserta keluarganya.
PENGELOLAAN SISTEM PENGETAHUAN
PERTANIAN
Pengelolaan sistem pengetahuan pertanian merupakan
intisari dari semua fungsi yang sebelumnya telah diuaraikan, dan merupakan
tempat di mana terlebih dulu harus diadakan tindakan koreksi, jika kita
menghendaki agar segala usaha untuk menyempurnakan pendidikan dan penelitihan
dalam bidang pertanian dapat berjalan dengan tepat dan efektif.
Tindakan yang harus diambil dengan kaitan pengelolaan
sistem pengetahuan pertanian ini adalah dihapuskannyan sistem pendekatan
berpecah-belah yang berkenaan dengan usaha memperbaiki dan memperkokoh komponen
pendidikam dan penelitihan dalam bidang pertaniaan, dan perlu digunakan
pendekatan yang bersifat lebih luas baik oleh masing-masing pemerintah nasional
maupun oleh seluruh badan ekstern.
1.
Anjuran Untuk Peninjauan Keseluruhan
Sistem
Akan
menghasilkan suatu peraturan yang mantap untuk menyediakan musyawarah
bersinambungan antara segala pihak yang masing-masing bertanggung jawab atas
suatu komponen dalam sistem ini dan untuk mengadakan arus informasi secara
teratur, beserta jasa-jasa monotoring dan evaluasi, yang masing-masing
merupakan syarat mutlak untuk menjamin peningkatan efisiensi dan produktivitas
keseluruhan sistem pengetahuan pertanian tersebut.
2. Bantuan
dari Pihak Lembaga Internasional dan Badan Intenasional
Lembaga-lembaga
luar negeri dapat memberi bimbingan menuju suatu pendekatan terpadu danb
sistematis untuk memperkokoh sistem-sistem pengetahuan pertaniaan.
BAB
9. KUPASAN MENGENAI PROGRAM PENDIDIKAN
KETRAMPILAN DI LUAR BIDANG PERTANIAN
PERBEDAAN ANTARA KOTA
DAN DESA
1.
Ketrampilan yang diperlukan oleh
penduduk pedesaan berguna untuk menjamin kelangsungan hidup serta untuk mencari
nafkah jauh berbeda daripada yang diubutuhkan penduduk perkotaan, meskipun
ketrampilan itu serupah namanya
2. Struktur
kesempatan kerja di daerah pedesaan dan pola perkembangannya selama
berlangsungnya usaha pembangunan jauh berbeda dengan di daerah perkotaan. Maka
akan memyesatkan bila kita menggunakan pola kesempatan kerja di kota sebagai
pedoman untuk meramalkan pola kebutuhan dan ketrampilan yang akan terdapat di suatu
pedesaan tertentu. Salah satu yang dapat dijadikan pegangan adalah memeriksa
keadaan pasaran pertukangan di suatu desa tertentu setra menjajagi perkembangan
di masa depan, sebelum mulai menyususn suatu program pendidikan baru, serta
tetap mengamati perkembangan pasar, agar dapat disesuaikan dengan program
pendidikan setiap perkembangan dan perubahan
3. Masyarakat
pedesaan, berlainan dengan masyarakat umumnya, mempunyai sejumlah besar
perusaahan kecil-kecil, di mana tugas teknik dan pengelolaan umumnya dilakukan
oleh si pengusaha sendiri.
4. Di
daerah pedesaan angka partispasi kursus dan angka prosentase tamatan kursus
jauh lebih rendah daripada di daerah perkotaan.
5.
Masyarakat perkotaan yang modern
memiliki kemampuan yang lebih besar untuk menyerap aneka ragam ketrampilan
daripada masyarakat pedesaan uang kurang maju.
Sistem pendidikan
kejuruan non-formal bukan hanya terbatas pada kepandaian dan hasil karya
tradisional saja, sistem ini terbukti telah memberi tanggapan posistif pada
barang-barang dan teknologi canggih, yang memerlukan ketrampilan canggih pula.
Program pendidikan beraneka ragam, jelas akan nyata
bahwa perbedaan yang besar yang terdapat dalam keadaan di daerah perkotaan dan
pedesaan sangat banyak mempengaruhi berhasil-tidaknya suatu program, dan siapa
yang dengan seksama mengindahkan adanya perbedaan tersebut, pasti besat
harapannya akan berhasil.
Empat
Kelompok Program Pendidikan
1. Program
untuk memberi ketrampilan tambahan untuk para petani guna memperbaiki perumahan
dan ladangnya dan untuk mencari pendapatan tambahan melalui pekerjaan
sampingan.
2.
Program untuk membina ketrampilan
pemuda untuk pekerjaan di luar pertanian.
3.
Program untuk Menatar dan
Memperluas Ketrampilan Kaum Tukang, pengrajin dan pengusaha yang
bekerja/berusaha.
4. Program
pendidikan dan Penunjang Terpadu untuk membina Industri Kecil dan Perusahan desa di luar pertanian.
BAB 10. MENYEMPURNAKAN
TEKNOLOGI PENDIDIKAN NON-FORMAL
Teknologi pendidikan yang dimaksud bukan
sekedar “hadware” berupa kapur, papan tulis, potlot dan kertas, namun mencakup
seluruh sasaran dan daya upaya, seluruh
metode untuk mengatur dan mempergunakan
segala benda tersebut sebagai Komponen dari suatu system mengajar, termasuk
soal teknik untuk menciptakan “software” atau bahan pelajaran sebagai pelengkap
hardware.
Gambaran
umum :
1. Pendidikan
non formal secara keseluruhan mempunyai kemampuan luar biasa jauh lebih luas
daripada pendidikan formal untuk menerapkan aneka ragam teknologi pendidikan.
2.
Kesan Keseluruhan program pendidikan non
formal cenderung tetap merangkul daya upaya dan metode pendidikan yang
tradisional, mahal dan kurang efisien. Sehingga masih banyak kesempatan untuk
meningkatan efektifitas biaya dengan menyempurnakan teknologinya.
3.
Suatu hambatan utama terhadap usaha
memperluas pendidikan non formal adalah karena terlalu banyak mengandalkan pendidikan tatap muka antara pengajar dan
siswa. Untuk menyingkirkan hambatan tersebut yaitu penggunaan barang cetakan,
radio, film dan belajar kepada setiap orang.
4. Seharusnya
dalam usaha menyempurnakan teknologi pendidikan untuk pedesaan yang termasuk
miskin yaitu mencari cara yang tepat untuk mempergunakan teknologi tersedia
yang murah dan efektif.
Dalam
bab 10 ini diberikan beberapa contoh penggunaan teknologi pendidikan biaya
murah dengan cara imaginative :
1. Penggunaan
media massa untuk kampanye tertentu: dicontohkan di Ghana (1953-1956) kampanye
pohon coklat, melalui pendidikan media massa menggunakan radio, poster berwarna
warni dan film strip petani coklat diajak menanggulangi masalah penyakit coklat
dengan penyemprotan pestisida, bukan dengan cara ditebang. contoh lain di
puebla meksiko, dibuat film menarik yang memperagakan cara-cara menanam jagung
yang lebih sempurna, serta cara untuk menarik manfaat dari dana kredit, film
tersebut cukup menarik dan efektif.
2.
Menggunakan tenaga pedagang dan petani
sebagai penyuluh: dinegara tertentu kalangan produsen dan penyalur sarana
produksi dan alat pertanian dijadikan sumber pengetahuan yang berfaedah bagi kaum
petani. Penyalur (marketing) sarana pertanian biasanya merangkap menjadi
penyuluh efektif karena langsung
bersinggungan dengan kebutuhan petani. namun biasanya penyuluh yang efektif
adalah tetangga petani yang merupakan tokoh masyarakat yang berpendidikan dan
berprofesi sebagai petani sehingga dapat di contoh oleh petani lainnya.
3. Pebinaan
keterampilan dipelosok daerah terpencil : contohnya yaitu di SENA kolombia,
dengan mengantarkan tenaga pengajar ke desa sehingga lebih dekat dengan calon
siswa. Contoh lain paket pendidikan aneka media di Filipina, terdapat
organisasi Pusat Komunikasi Sosial (SCC) yang khusus mempersiapkan paket
pendidikan aneka media untuk badan- badan resmi dan swasta dengan system
kontrak.
Banyak
diantara pemerintah pada negara berkembang menyalurkan hardware berupa alat-alat pendidikan, lalu diperintahkan tenaga
pendidik untuk memanfaatkan sarana tersebut, namun tidak dipikirkan terlebih
dahulu maksud dan tujuan penggunaanya, dan umumnya tidak tersedia software
(bahan pendidikan) yang mengiringi hadware tersebut. Saran-saran yang diberikan
oleh penulis bagi perencanaan teknologi baru pendidikan non formal antara lain
yaitu.
1. Pilihan
dan kombinasi teknologi yang tepat
Setiap corak pendidikan non formal memerlukan corak
atau kombinasi teknologi yang tertentu, dsesuaikan dengan kelompok penduduk
yang menjadi sasaran.
2. Perincian
langkah-langkah persiapan yang penting
Perlu dibuat daftar rinci mengenai seluruh persiapan
yang perlu sebelum mulai diterapkan inovasi teknologi baru. Meliputi uji bahan
(software) yang akan digunakan, mempersiapkan kelompok penduduk yang akan
menjadi sasaran, menjamin tersedianya sarana, disediakanya sarana komunikasi,
membina pengertian khalayak umum lainya, dan perencanaan lanjutan.
3. Kerjasama
antar lembaga
Pada penyelenggaraan pendidikan harus
mengintegrasikan seluruh organisasi. Contoh di Indonesia Surabaya jawa timur
departemen pertanian melakukan sosialisasi bekerjasama dengan pusat penerangan
menggunakan program radio. Isi penyuluhan ternyata hanya berkaitan dengan
pertanian saja, padahal bisa lebih berfaedah jika diikuti dengan penyuluhan
masalah kesehatan, gizi keluarga berencana, perumahan, pendidikan bagi remaja
dan lain-lain.
Upaya
penyempurnaan yang praktis:
1. Inventarisasi
awal
Garis besarnya yaitu meliputi. (1) Corak teknologi
pendidikan yang diterapkan dan pembaharuan penting yang dikehendaki. (2) tenaga
ahli, fasilitas dan keahlian khas yang tersedia pada masing-masing lembaga
pemerintah, perguruan tinggi. (3) hambatan utama yang menghalangi pemanfaatan
sumberdaya yang tersedia secara sempurna. (4) langkah yang diambil untuk
memperlancar koordinasi, (5) penggunaan bersama sarana yang tersedia untuk
pendidikan non formal.
2. Membina
kebijaksanaan wajar
Yaitu memperhatikan penyusunan software (bahan pelajaran)
yang bermutu, sehingga lebih banyak mengandalkan belajar sendiri daripada
metode tatap muka, juga agar lebih banyak disediakan sarana pelajaran, diadakan
kerjasama antar organisasi, peningkatan mutu lingkungan pengajaran didaerah
pedesaan.
3. Menggairahkan
usaha belajar sendiri
Upaya yang tepat untuk mencapai kesempurnaan ialah
dengan mengatur penggunaan sumberdaya yang tersedia untuk menciptakan lebih
banyak program dan bahan pendidikan agar dapat dimanfaatkan orang untuk dapat
memperoleh lebih banyak ilmu dengan gaya belajar sendiri.
4. System
penyajian pendidikan untuk penggunaan bersama
Diharapkan usaha pendidikan dilakukan bersama-sama,
yaitu dengan menggunakan fasilitas dan tenaga pengajar untuk berbagai program
yang melayani penduduk didaerah yang sama.
Penggunaan fasilitas untuk digunakan demi beragam tujuan pendidikan
merupakan teladan yang layak dicontoh.
Tinjauan mengenai teknologi pendidikan
memperlihatkan segi yang cerah dan segi yang suram. Segi yang suram ialah bahwa
program-program pendidikan non formal pada umumnya menunjukkan kecenderungan
untuk berpegang kepada cara-cara lama dengan pengajaran bertatap muka yang
mahal biayanya dan mengurangi efektifitas. Kurangnya bahan dan alat pelajaran
untuk belajar sendiri dan lebih menonjolkan hardware daripada software mebatasi
daya jangkau dari program pendidikan itu.
Segi yang cerah yaitu tersingkapnya
sejumlah besar peluang untuk memperkokoh pendidikan non forma dengan mengadakan
kombinasi aneka media dan pemanfaatan secara lebih besar dar tenaga ahli yang
kreatif untuk menciptakan bahan-bahan program yang lebih sempurna dan efektif.
BAB 11. SEGI EKONOMI
PENDIDIKAN NON-FORMAL
Dalam
meninjau biaya pendidikan non formal perlu dibedakan antara biaya keuangan
dengan biaya ekonomi sejati (biaya pengorbanan kesempatan), karena sebagian
besar program non formal banyak menggunakan fasilitas pinjaman, tenaga
sukarelawan, sumbangan jasa yang sesungguhnya jauh melebihi biaya keuangan yang
tercatat resmi. Dalam mengadakan penilaian tentang manfaat yang diperoleh dari
program tersebut dapat dinilai manfaat secara langsung (misal yang tercermin
pada peningkatan produksi dan pndapatan), manfaat ekonomi tak langsung dan
manfaat non ekonomi (kepandaian dll)
Kesulitan dalam
mengumpulkan dan menganalisa data
1. Kelangkaan
persediaan data:
Sumber tunjangan bagi kasus kasus contoh
2.
Sumber
sumber pembiayaan
bagi program pendidikan non formal pada lokasi penelitian
3. Pemerintah
nasional
4. Pemerintah
regional
5. Organisasi
umum/swast
6.
Perwakilan bantuan ekternal/luar
negeri
Peranan sumber biaya
luar negeri
Kenyataan
yang sangat menonjol ialah peranan pihak luar negeri hampir ada pada setiap
kasus terutama berkenaan dengan modal dan biaya pengembangan awal dan merupakan
sumber biaya yang terbesar. Dapat diambil kesimpuan bahwa pemerintah dari
Negara-negara berkembang kurang bergairah untuk mengawali atau memperluas
program pendidikan non formal atas prakarsa sendiri, mungkin dengan dana dari
luar lebih dihargai dikehendaki oleh penduduknya. Perkembangan selanjutnya baru
akhirnya ada tanggapan dari pihak swasta karena dianggap sebagai peluang baru.
Masalah
yang timbul karena batuan luar negeri:
1. Hanya
mengindahkan kepentingan dan spesialisasi Negara sendiri, dan membuat perpecah belahaan
usaha pendidikan didaerah pedesaan.
2.
Ingin lebih banyak memanfaatkan
sumberdaya yang agak terbatas, sehingga memusatkan perhatianya kepada proyek
proyek perintis yang terbatas skala dan jangka masanya, dengan harapan proyek
perintis tersebut segera akan berhasil dan diperluas mengunakan dana dan daya
dalam negeri.
3. Ketergantungan
Negara berkembang yang berlebihan terhadap bantuan luar negeri.
Sumberdaya
potensial didalam negeri yang dapat digunakan
1. Pendapatan
rutin pemerintah: contoh di Nigeria,
2.
Pengalihan dana dari anggaran pendidikan
formal
3.
Pungutan istimewa oleh pemerintah:
contoh di chili, brazil, venezuela
4.
Sumbanga pemerintah daerah atau
masyarakat: contoh di Kenya
5.
Fasilitas pinjaman, contoh di nigeria
dan sena
6.
Pengaihangunaan sumberdaya komunikasi,
melalui media massa dan radio. contoh di india dan Indonesia
7.
Tenaga sukarelawan, contoh di korea
selatan, kolombia,Tanzania
8.
Swasembada, para peserta pendidikan non
formal membantu membangun fasilitas, menyediakan konsumsi sendiri, dan
jasa-jasa lain secara mandiri contoh srilangka, Senegal.
9.
Menjual barang dan jasa, yaitu melalui
usaha komersial dari usaha percetakan yang dimiliki, contoh Filipina
10. Uang
iuran peserta.
Karakteristik
biaya pendidikan non formal:
1. Kebanyakan
pendidikan non-formal mempunyai komponen biaya modal yang relative rendah (lebih
rendah dari kegiatan pendidikan formal), nmaun komponen biaya operasional yang
relative tinggi.
2.
Biaya terbesar yaitu biaya personil,
sehingga kurang sekali tersisa untuk pengadaan bahan dan sarana pendidikan
JAWABAN SEMENTARA ATAS
PERTANYAAN TERKAIT SEGI EKONOMI PENDIDIKAN NON FORMAL
1. Apakah
secara ekonomis mungkin dilaksanakan perluasan pendidikan non formal secara
besar-besaran di Negara-negara berkembang?
Jawab: iya, asal terdapat keadaan politik yag
menguntungkan. Setiap Negara berkembang akan dapat menggali sumberdaya yang
diperlukan, termasuk banyak sumberdaya yang telah dimiliki nya, yang non
konvensional, yang masih terpendam, atau yang masih belum dimanfaatkan, untuk
menunjang anekaragam kesempatan pendidikan formal dan non formal
2. Apakah
keunggulan biaya potensial pendikan non formal
Jawab: keunggulanya yaitu fleksibilitasnya yang
hakiki serta ketidak konvensionalanya pendidikan non formal keleluasanya untuk
melakukan improvisasi dan menyesuaikan diri dengan aneka ragam keadaan dan
kesempatan, memberikan suatu keunggulan biaya yang potensial terhadap
pendidikan formal.
BAB
12. PERENCANAAN, PENYELENGGARAAN,
PENGELOLAAN, DAN KEPEGAWAIAN
Diantara segala macam masalah terkait
program pendidikan non formal Yang paling rumit dan paling sulit ditanggulangi
adalah masalah yang menyangkut perencanaan dan pengelolaan dari program. Anjuran
penulis dalam merencanakan program-program pendidikan non formal dalam
lingkungan daerah. Langkah-langkahnya adaah sebagai berikut:
1. Mengadakan
diagnose mengenai keadaan umum, potensi dan tahap pengembangan di daerah
bersangkutan
2. Mengadakan
diagnose ciri-ciri khas serta kebutuhan yang realistis dan minat dikalangan
kelompok calonsiswa/peserta potensial
3. Membuat
perincian tegas mengenai tujuan pengajaran, termasuk urutan prioritas serta
jadwal waktu yang tepat
4. Inventarisasi
kegiatan lain dalam bidang pendidikan yang masih pada tahap rencana atau sedang
dilaksanakan didaerah sama sehingga bisa dikaitkan kepada program
5. Inventarisasi
factor-faktor dan jasa-jasa luar pendidikan yang relevan agar dapat memberikan
sumbangan kepada usaha pendidikan
6. Inventarisasi
factor tetap dalam bidang sosial, ekonomi, kelembagaan, adminsitratif atau
politik yang dapat menunjang.
7. Identifikasi
ke bijakan dan urutan prioritas nasional
yang dapat mempengaruhi program
BAB 13. IHTISAR DAN
ULASAN PENUTUP
Pandangan terhadap
pendidikan
Berlawanan dengan pandangan umum yang
menyamakan pendidikan dengan sekolah, penulis memandang bahwa pendidikan bukan
suatu kegiatan struktur atau kelembagaan, namun pendidikan adalah proses seumur
hidup.
Adapun pendidikan non formal dalam studi
penulis yaitu suatu kegiatan teratur dengan tujuan member pendidikan yang
diselenggarakan diluar kerangka system pendidikan formal yang terlalu kaku.
Pendidikan non formal mempunyai kebebbasan untuk melayani penduduk dari setiap
kelompok usia dan dengan sembarang dasar pendidikan segala jenis ilmu yang
hendak dituntut. Dapat diadakan dengan aneka betuk, mnggunakan beraga tenaga
pengajar dan metode pngajaran, dapat dilakukan disembarang tempat, dan sepanjang
masa.
Kelemahan pendidikan non formal dalam
persainganya dengan pedidikan formal yaitu, kalah ber Martabat, kurang membuka
jalan kepada jabatanpenting, kurang tersedianya anggaran dari Negara, selain
itu terhambat masalah politik, birokrasi, dan lain-lain.
Tiga kesimpulan pokok
1. Pendidikan
non formal dari jenis yang tepat, ditempat tepat, serta dikaitkan dengan
kegiatan penunjang yang wajar merupakan sarana mutlak untuk pembangunan
masyarakat desa.
2.
Di Negara yang paling miskin, asal
terdapat iklim politik yang sehat serta Tekad para pemimpin dan rakyat untuk
membina masa depan yang cerah seharusnya mampu mengerahkan sumberdaya alam dan
manusia untuk memperluas usaha pendidikan non formal di daerah pedesaan.
3. Negara-negara
berkembang akan dapat maju dalam pendidikan non formal jika diberikan bantuan
yang kritis dari luar negeri.
Pointer
1. Pendidikan
non formal merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan formal dan
pendidikan informal. Pendidikan non formal yang tepat akan bisa dijadikan
instrument mendukung kegiatan pembangunan di pedesaan. Untuk itu dukungan
political dan goodwill dari para stakeholder sangat diperlukan. Dukungan dari
pihak luar seperti donor terkadang juga diperlukan dalam bentuk bantuan yang mendidik
dan kritis. Meski demikian perlu disadari bahwa pendidikan non formal adalah
bukan resep mujarab untuk segala jenis permasalahan di desa.
2. Untuk
mendukung efektifitas pendidikan non formal, beberapa hal yang perlu
diperhatikan adalah: (a) perlu ada integrasi yang lebih nyata dengan komponen
lain misalnya penyaluran kredit, bantuan modal, pemasaran dll, (b)
desentralisasi dalam pengambilan keputusan karena pendidikan non formal
seringkali bersifat local specific, (c) akses untuk kaum miskin dalam pendidikan
non formal dan kegiatan penunjang lainnya.
3. Persoalan di sector penyuluhan pertanian: (a)
sektoral, (b) kurang perencanaan (c) cakupan luas (d) orientasi komoditi unggul
dan skala besar, (e) kurang diagnose terhadap kebutuhan masyarakat, (f)
insentif dan pengembangan kapasitas penyuluh terbatas (g) sarana kerja kurang
memadai. Solusi yang ditawarkan adalah : (a) integrasi penyuluhan dengan jasa
penunjang lain sesuai prioritas pembangunan daerah, (b) penguatan kelembagaan
penyuluh pertanian termasuk incentive system, (c) pengembangan assessment
kebutuhan petani, (d) pengembangan teknologi pendidikan dengan multi media.
4.
Penguatan riset pertanian diarahkan pada; (a)
kajian penelitian ilmu social untuk menunjang pembangunan desa, (b) adopsi
penelitian nasional dan internasional, (c) menyelaraskan dan kompilasi hasil
penelitian biologi ilmiah menjadi bahan penyuluhan yang praktis, (d) mengaitkan
kegiatan penyuluhan dengan penelitian di lapangan.
5.
Persoalan pendidikan di sekolah pertanian: (a)
mutu rendah, (b) kurang banyak latihan praktek, (c) kurangnya kegiatan
penelitian, (d) kurangnya materi pendukung seperti sosiologi pedesaan, (e) link
and match dengan dunia kerja lemah, (f) motivasi para pelajar untuk kembali ke
desa sangat rendah. Untuk mengatas hal ni reorientasi kurikulum yang berbasis
kebutuhan masyarakat dan peningkatan kualitas tenaga pengajar merupakan salah
satu hal yang mutlak diperlukan.
6. Untuk
mendorong pendidikan non formal di luar sector pertanian, beberapa poin penting
yang perlu dilakukan adalah: (a) asessement terhadap jenis pendidikan yang
diperlukan termasuk peluang kerjanya, (b) pengembangan sistem pendidikan yang
sesuai kondisi local seperti magang, kernet dll (c) pengembangan teknologi dan
media pendidikan yang murah dan efektif seperti peer to peer learning, siaran
radio, selebaran dll.
7. Bantuan asing untuk mendukung pendidikan non
formal hendaknya harus mengacu opada kebutuhan riil di lapangan dan
terintegrasi dengan scenario pembangunan di daerah. Ego sektoral dan ego
lembaga harus dihindarkan, demikian pula penyaluran bantuan dilakukan dengan
cara mendidik agar tidak menimbulkan ketergantungan dari masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar